Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank menyatakan bahwa dampak langsung eskalasi konflik di Timur Tengah terhadap perdagangan Indonesia masih relatif terbatas. Penilaian ini didasarkan pada kecilnya eksposur perdagangan Indonesia dengan kawasan tersebut.
Head of Indonesia Eximbank Institute, Rini Satriani, dalam keterangannya di Jakarta pada Rabu (18/3), menjelaskan bahwa risiko utama justru muncul melalui kanal tidak langsung. Risiko tersebut mencakup kenaikan harga energi, volatilitas nilai tukar, serta perlambatan aktivitas industri di negara mitra dagang utama yang dapat memengaruhi dinamika ekspor Indonesia.
Analisis ini penting untuk memahami bagaimana gejolak geopolitik global dapat memengaruhi stabilitas ekonomi nasional, khususnya sektor perdagangan. LPEI terus memantau perkembangan situasi untuk mengidentifikasi potensi tantangan dan peluang bagi eksportir Indonesia.
Advertisement
Advertisement
Eksposur Perdagangan Langsung yang Terbatas
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah oleh Indonesia Eximbank Institute menunjukkan bahwa ekspor Indonesia ke Timur Tengah hanya sekitar 4,2 persen dari total ekspor nasional. Komoditas utama yang diekspor meliputi minyak kelapa sawit (HS 1511), perhiasan (HS 7113), serta mobil dan kendaraan bermotor lainnya (HS 8703).
Di sisi lain, impor Indonesia dari kawasan Timur Tengah mencapai sekitar 3,9 persen dari total impor nasional. Impor ini didominasi oleh komoditas energi, khususnya minyak. Struktur perdagangan ini menegaskan bahwa eksposur langsung Indonesia terhadap kawasan konflik memang relatif kecil.
Sebagian besar ekspor Indonesia justru mengalir ke kawasan lain yang lebih signifikan. Kawasan-kawasan tersebut meliputi Asia Timur (36,4 persen), Asia Tenggara (20,8 persen), Amerika Utara (11,5 persen), Asia Selatan (9,6 persen), dan Eropa Barat (5,7 persen). Oleh karena itu, dinamika ekonomi di kawasan-kawasan ini tetap menjadi penentu utama kinerja ekspor nasional.
Advertisement
Advertisement
Risiko Tidak Langsung dan Jalur Energi Global
Meskipun dampak langsung terbatas, LPEI mencermati risiko tidak langsung yang lebih besar. Rini Satriani menegaskan bahwa pihaknya terus memantau perkembangan konflik dan implikasinya terhadap perdagangan global, terutama terkait stabilitas jalur energi internasional.
Kawasan Timur Tengah memegang peran strategis dalam sistem energi global, menyumbang lebih dari 30 persen produksi minyak dunia. Sekitar 20-30 persen perdagangan minyak global juga melewati Selat Hormuz. Gangguan pada jalur pelayaran strategis ini dapat memicu dampak cepat pada harga energi internasional dan meningkatkan biaya logistik global.
Meskipun impor minyak Indonesia tidak secara langsung berasal dari Timur Tengah, dampaknya tetap terasa melalui jalur perdagangan regional. Sekitar 75 persen impor minyak Indonesia berasal dari Singapura dan Malaysia, yang merupakan pusat perdagangan dan pengolahan minyak di Asia. Kedua negara ini juga mengimpor minyak mentah dari Timur Tengah, sehingga gangguan pasokan dapat mendorong kenaikan harga energi di dalam negeri.
Advertisement
Indonesia Eximbank Institute juga memperhatikan potensi dampak perubahan distribusi energi global terhadap negara-negara pengimpor utama minyak Timur Tengah. Negara-negara seperti China, Jepang, India, dan Korea Selatan merupakan pasar ekspor penting bagi Indonesia, sehingga kenaikan biaya energi berpotensi menekan aktivitas industri dan permintaan terhadap produk Indonesia.
Advertisement
Potensi Dampak Ekonomi dan Peluang Komoditas
Jika ketegangan geopolitik berlangsung lama, harga minyak global sepanjang tahun 2026 diperkirakan bergerak pada kisaran 85-120 dolar AS per barel. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata awal tahun yang masih berada di sekitar 60 dolar AS per barel. Kenaikan harga energi dan biaya logistik berpotensi meningkatkan biaya produksi di berbagai sektor industri global.
Bagi eksportir Indonesia, tekanan akan terasa pada sektor dengan ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor, seperti manufaktur, petrokimia, dan logam dasar. Kenaikan biaya input ini berisiko menggerus margin keuntungan, terutama jika permintaan global melemah. Selain itu, volatilitas pasar keuangan global juga berpotensi menekan nilai tukar negara emerging markets, termasuk Indonesia, yang dapat meningkatkan biaya impor bahan baku dan menambah tekanan bagi industri berorientasi ekspor.
Di tengah risiko tersebut, sejumlah komoditas ekspor Indonesia justru berpotensi diuntungkan dari kenaikan harga energi global. Batu bara, yang berkontribusi sekitar 8-9 persen terhadap total ekspor nasional, berpotensi mengalami kenaikan harga. Harga minyak kelapa sawit (CPO) juga menunjukkan tren kuat seiring solidnya permintaan global. Selain itu, beberapa komoditas berbasis bahan baku lokal turut mendapat keuntungan dari penurunan suku bunga sebelumnya yang membantu menekan biaya produksi, sehingga meningkatkan daya saing produk ekspor Indonesia.
Advertisement
Secara keseluruhan, kenaikan harga komoditas energi dan agro dapat membantu menopang kinerja ekspor Indonesia dalam jangka pendek. Namun, volatilitas pada komoditas logam dan sektor industri tetap perlu diantisipasi, terutama jika perlambatan ekonomi global terjadi lebih dalam. Dengan mempertimbangkan dinamika harga komoditas dan kondisi perdagangan global, ekspor Indonesia pada tahun 2026 diperkirakan masih dapat tumbuh pada kisaran 4-5 persen, dan berpotensi meningkat menjadi sekitar 5-6 persen pada tahun 2027, dengan catatan permintaan global pulih secara bertahap dan tensi geopolitik mereda.
Sumber: AntaraNews