Perubahan Iklim Berdampak Buruk ke Perekonomian, Bos BTN Singgung soal Pembiayaan Hijau

Perubahan iklim atau climate change menjadi permanen di dunia sejak enam tahun terakhir di antara berbagai risiko global lainnya.

Merdeka.com
Oleh Merdeka.com - Reporter
Perubahan Iklim Berdampak Buruk ke Perekonomian, Bos BTN Singgung soal Pembiayaan Hijau
Perubahan Iklim Berdampak Buruk ke Perekonomian, Bos BTN Singgung soal Pembiayaan Hijau (Merdeka.com)

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) mendorong generasi muda untuk mendalami pembiayaan hijau atau ramah lingkungan (green financing) di era digital. Langkah ini penting untuk menciptakan ekonomi berkelanjutan dan menjaga kelestarian bumi.

Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu menilai, green financing menjadi hal yang mendesak karena adanya risiko global yakni perubahan iklim yang dapat berdampak buruk tidak hanya bagi perekonomian, tetapi juga keberlangsungan hidup manusia.

Berdasarkan data yang dipaparkan Nixon, perubahan iklim atau climate change menjadi permanen di dunia sejak enam tahun terakhir di antara berbagai risiko global lainnya, seperti pandemi, ketidakstabilan geopolitik, cybersecurity dan krisis energi. Risiko dari perubahan iklim ini, kata Nixon, dapat mempengaruhi kondisi ekonomi dan sistem keuangan, sehingga sudah saatnya perekonomian digerakkan dengan prinsip keberlanjutan.

"Suhu rata-rata global meningkat antara 1,3 derajat Celsius hingga 1,4 derajat Celsius, tertinggi dalam lima tahun terakhir, dan suhu rata-rata di Indonesia meningkat setiap 10 tahun sejak 1971. Dengan adanya risiko perubahan iklim, kami mulai mengalokasikan kredit kami ke program-program yang berkelanjutan, misalnya membantu rumah sakit hewan yang green dan tidak membiayai sawit dan batubara. Kami membiayai masyarakat yang ingin punya rumah dengan prinsip satu rumah satu pohon,” papar Nixon dalam kuliah umum di Unud, Bali, Rabu (10/12).

Nixon menjelaskan, didorong kesadaran dan komitmen terhadap ekonomi berkelanjutan, BTN menjadi salah satu bank di Indonesia yang menerapkan prinsip-prinsip green financing dan green banking, di mana perbankan dapat mendorong praktik bisnis yang ramah lingkungan serta berkontribusi dalam mengatasi perubahan iklim. Praktik ini, kata Nixon, telah menjadi tren global yang diikuti oleh banyak bank, institusi keuangan, dan perusahaan di dunia.

"Di BTN ada beberapa proyek ramah lingkungan dengan pola-pola pembiayaan green financing. Contohnya hari ini kita mulai coba bergerak ke program energi terbarukan, dengan memberikan dukungan untuk proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) dan menyalurkan kredit untuk pembangunan pabrik pupuk yang mernggunakan energi terbarukan. Ini adalah cara-cara kami untuk menyelamatkan bumi," kata Nixon.

Program Rumah Rendah Emisi

Contoh kongkrit lainnya dari penerapan green financing, kata Nixon, yakni program Rumah Rendah Emisi yang dilakukan BTN dengan melibatkan mitra developer dan produsen material bangunan yang ramah lingkungan (eco-friendly) untuk membiayai 150.000 unit rumah rendah emisi hingga 2029.

BTN juga secara konsisten telah melakukan berbagai inisiatif keberlanjutan, contohnya mengurangi konsumsi kertas, menggunakan kendaraan listrik untuk operasional, memasang panel surya, dan mendorong digitalisasi baik untuk internal operation maupun untuk nasabah.

"Apa yang kita lakukan terhadap bumi, akan kita tuai kemudian hari. Ini yang saya tularkan ke generasi muda, bahwa kita harus mlihat bumi dengan cara berbeda. Sebab itu, sistem pembiayaan di BTN pun kami ubah," tutur Nixon.

Kolaborasi dengan Udayana

Pada kesempatan tersebut, BTN secara resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Universitas Udayana dalam rangka mendukung penyediaan fasilitas jasa dan layanan perbankan serta dukungan untuk pengembangan sivitas akademika di kampus Unud.

Melalui kerja sama tersebut, BTN memberikan solusi pengelolaan keuangan untuk operasional kampus Unud dan memenuhi berbagai kebutuhan institusi pendidikan melalui produk dan layanan BTN.

Rekomendasi