Tahukah Anda? STQH Nasional Sultra 2025 Bukan Sekadar Lomba, Tapi Pemicu Kebangkitan Ekonomi Rakyat!

Menteri Agama RI mengungkapkan bahwa penyelenggaraan STQH Nasional Sultra 2025 di Kendari tidak hanya ajang kompetisi, tetapi juga motor penggerak kebangkitan ekonomi rakyat lokal berkat kehadiran ribuan peserta.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Tahukah Anda? STQH Nasional Sultra 2025 Bukan Sekadar Lomba, Tapi Pemicu Kebangkitan Ekonomi Rakyat!
Menteri Agama RI mengungkapkan bahwa penyelenggaraan STQH Nasional Sultra 2025 di Kendari tidak hanya ajang kompetisi, tetapi juga motor penggerak kebangkitan ekonomi rakyat lokal berkat kehadiran ribuan peserta. (AntaraNews)

Menteri Agama (Menag) RI Nasaruddin Umar menyatakan bahwa pelaksanaan Seleksi Tilawatil Quran dan Hadis (STQH) Nasional Ke-28 di Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), akan menjadi pemicu signifikan kebangkitan ekonomi rakyat.

Pernyataan ini disampaikan Menag pada Sabtu (11/10) malam di Kendari, menyoroti potensi perputaran ekonomi yang besar. Ribuan peserta dan penggembira dari berbagai provinsi diperkirakan akan membanjiri kota tersebut, membawa dampak positif bagi sektor usaha lokal.

Kegiatan keagamaan berskala nasional ini tidak hanya berfungsi sebagai ajang seleksi talenta Al-Quran dan Hadis terbaik, tetapi juga sebagai katalisator pertumbuhan ekonomi. Kehadiran massa yang besar diharapkan dapat menggerakkan roda perekonomian masyarakat Sultra.

Dampak Ekonomi Signifikan dari STQH Nasional Sultra 2025

Salah satu dampak positif terbesar dari penyelenggaraan STQH Nasional Sultra 2025 adalah pada sektor ekonomi lokal. Menag Nasaruddin Umar menjelaskan bahwa kehadiran ribuan kafilah, official, dan penggembira dari seluruh provinsi akan memicu perputaran uang yang sangat signifikan di Kendari.

Diperkirakan sekitar 10.000 peserta dan penggembira akan hadir, menciptakan potensi kebangkitan ekonomi rakyat yang luar biasa. "Kalau misalnya 10.000 orang tersebut satu kali membelanjakan 1 hari Rp500 ribu tentu akan memberikan dampak yang besar," ujar Nasaruddin Umar, mengilustrasikan potensi perputaran ekonomi.

Meskipun membutuhkan pengorbanan anggaran dari pemerintah daerah, dampak ekonomi ini dipercaya akan tertutupi. Bergairahnya pedagang kaki lima serta sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) akan menjadi tulang punggung perputaran ekonomi selama STQH Nasional Sultra 2025 berlangsung.

Sultra: Tuan Rumah Berpengalaman dan Penyelenggaraan Berkualitas

Sulawesi Tenggara memiliki rekam jejak yang baik sebagai tuan rumah kegiatan keagamaan nasional, menurut Menag Nasaruddin Umar. Sebelumnya, Sultra sukses menjadi tuan rumah Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) pada tahun 2006 dan Seleksi Tilawatil Quran (STQ) pada tahun 2019.

"Ini adalah perhelatan yang ketiga, Sulawesi Tenggara. Dan alhamdulillah selalu sukses," kata Nasaruddin Umar, memuji konsistensi Sultra. Keberhasilan ini menunjukkan kapasitas daerah dalam mengelola acara berskala besar dengan baik dan profesional.

Menag juga memuji kualitas penyelenggaraan STQH di Sultra yang terasa seperti MTQ tingkat nasional, meskipun cabang lomba STQH seharusnya lebih terbatas. "Luar biasa Pak Gubernur bersama dengan seluruh tim bisa menyelenggarakan STQH ini, walaupun namanya STQH tapi rasa MTQ," tambahnya. Popularitas Sulawesi Tenggara juga meningkat tajam dengan hadirnya tamu-tamu VIP seperti Gubernur dan Wakil Gubernur dari berbagai daerah.

Masa Depan STQH: Antara Seleksi Internasional dan Gagasan Penyatuan Istilah

Terkait perbedaan STQH dan MTQ, Menag menjelaskan bahwa STQH diselenggarakan secara khusus untuk menyeleksi utusan terbaik Indonesia ke ajang MTQ internasional. "Target kita itu untuk mencetak juara-juara internasional yang akan datang. Siapa nanti yang juara di sini, itu yang akan mewakili Indonesia di luar negeri," lanjutnya.

Fokus utama STQH adalah mencari bibit unggul yang akan mengharumkan nama bangsa di kancah global. Oleh karena itu, standar seleksi dalam STQH sangat ketat dan berorientasi pada kualitas internasional.

Menariknya, ada gagasan untuk mengembalikan istilah tunggal MTQ dan tidak lagi menggunakan istilah STQH di masa depan. Gagasan ini muncul karena energi, pengeluaran, dan gairah masyarakat yang ditunjukkan dalam penyelenggaraan STQH hampir sama dengan MTQ. "Bagaimana kalau kita kembalikan tidak pakai istilah STQ lagi tapi kita kembalikan jadi MTQ. Nanti akan dirapatkan oleh LPTQ Nasional," tambah Nasaruddin Umar, menandakan adanya diskusi serius mengenai penyederhanaan istilah ini.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi