Danantara akan Terbitkan Patriot Bond Rp50 Triliun untuk Biayai Sampah Jadi Energi, Celios: Ini Proyek Super Mahal

Sebab, proses pemilahan sampah agar bisa diproses menjadi pembakaran memakan ongkos besar.

Maulandy Rizki Bayu Kencana
Danantara akan Terbitkan Patriot Bond Rp50 Triliun untuk Biayai Sampah Jadi Energi, Celios: Ini Proyek Super Mahal
Danantara akan Terbitkan Patriot Bond Rp50 Triliun untuk Biayai Sampah Jadi Energi, Celios: Ini Proyek Super Mahal (Merdeka.com)

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) bakal segera meluncurkan Patriot Bond. Target dana yang diincar mencapai Rp50 triliun untuk mengolah sampah jadi energi (waste to energy), seperti lewat proyek pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa).

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira menilai, waste to energy merupakan proyek super mahal. Sebab, proses pemilahan sampah agar bisa diproses menjadi pembakaran memakan ongkos besar. 

"Jadi sampah dari rumah tangganya saja itu enggak di-pisah, antara sampah yang bisa didaur ulang, sampah yang bisa diproses menjadi pembakaran. Jadi kalau ada sampah basah, dia tercampur dengan limbah baterai, itu bisa rusak pembangkitnya," ujarnya di kantornya, Jakarta, Rabu (27/8).

Selanjutnya, dia menyebut biaya instalasi pembangkit listrik hijau lain seperti dari tenaga surya  (PLTS), mikrohidro (PLTMH), hingga angin (PLTA) jauh lebih terjangkau dibanding PLTSa. 

"Jadi ini kayaknya rezimnya bukan rezim waste to energy untuk energy transition, tapi untuk pemilahan sampahnya saja, ditambah-tambahin energi gitu kan. Karena dolar per kw-nya itu enggak masuk yang waste to energy," ungkap dia. 

"Waste to energy dari sampah hasil limbah pertanian, itu saja bisa sampai USD 2.000 per kilowatt. Kalau misalnya pakai panel surya itu bisa di bawah USD 800 per kilowatt, angin itu sekitar USD 1.000 per kilowatt. Ini malah masuk ke sektor yang mahal," bebernya. 

Dianggap Kurang Transparan

Bhima turut menyoroti informasi soal patriot bond yang kurang transparan. Sehingga menimbulkan persepsi aneh di publik soal misi investasi hijau yang diusung Danantara

"Pertimbangannya enggak pernah di-expose kepada publik. Nah ini kalau teman-teman yang lain bilangnya ini solusi palsu nih. Yang harusnya didanai, yang bisa banyak nyerap tenaga kerja, banyak transisinya, bisa bikin komponen dalam negerinya," imbuhnya. 

Menurut dia, Danantara seharusnya tetap patuh pada Santiago Principles, yang merangkum panduan bagi setiap Sovereign Wealth Funds (SWF) agar bisa mengalokasikan dana secara bijak. 

Perbandingan dengan Malaysia

Dia lantas membandingkan dengan SWF Malaysia, Khazanah Nasional Berhad yang menawarkan proyek energi hijau untuk diinvestasikan, semisal dengan program semikonduktor hingga integrasi jaringan listrik di ASEAN. 

"Indonesia bisa bikin komponen, komponen energi terbarukan dari pada kita impor misalnya untuk transisi. Itu enggak disentuh," keluh Bhima.

"Enggak ada tuh pembahasan itu. Jadi hijaunya adalah hijau yang diklaim pura-pura hijau. Nah ini yang kemudian kita harus bilang, janganlah," pinta dia.

Rekomendasi