Pemerintah China menegaskan tidak ada negosiasi tarif yang berlangsung dengan Amerika Serikat (AS). Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun menyerukan agar pemerintah AS segera menghentikan upaya menciptakan kebingungan di tengah situasi perdagangan yang memanas.
Pernyataan tegas ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump, dalam wawancara dengan majalah TIME, mengklaim bahwa Presiden China, Xi Jinping telah menghubunginya. Trump menyebut kedua negara tengah terlibat dalam pembicaraan aktif untuk mencapai kesepakatan dalam perang dagang yang telah berlarut-larut.
Melansir dari Reuters, pernyataan tersebut langsung dibantah Beijing, menandai sinyal terbaru dari kebingungan yang terus membayangi upaya penyelesaian konflik. Perbedaan narasi ini menambah daftar panjang pernyataan bertentangan yang memperkeruh prospek perdamaian dagang antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia.
Trump, dalam wawancara dan juga saat berbicara kepada wartawan di Air Force One sebelum bertolak ke Roma menghadiri pemakaman Paus Fransiskus, kembali menegaskan bahwa pembicaraan tarif dengan China sedang berlangsung.
Dia mengklaim jika setahun dari sekarang AS masih memberlakukan tarif 50 persen terhadap barang impor asing, itu akan menjadi sebuah kemenangan total.
Sementara itu, laporan lain menyebutkan China tengah mempertimbangkan untuk menangguhkan tarif sebesar 125 persen atas sejumlah produk utama asal AS. Menurut sumber yang dikutip publikasi tersebut, pertimbangan ini didorong oleh kekhawatiran terhadap dampak negatif perang dagang terhadap sektor industri strategis di China.
Advertisement
Penegasan China Tak Pernah Lakukan Negosiasi
Dalam pernyataan resminya, Kementerian Luar Negeri China menegaskan China dan AS tidak melakukan konsultasi atau negosiasi apa pun mengenai tarif. Ungkapan ini juga disampaikan melalui akun resmi Kedutaan Besar China di AS, mempertegas posisi Beijing.
Trump sendiri mengungkapkan bahwa membuka pasar China untuk produk-produk AS akan menjadi sebuah kemenangan besar.
"Bebaskan China. Biarkan kami masuk dan bekerja di sana. Itu akan luar biasa. Itu akan menjadi kemenangan besar, tetapi saya bahkan tidak yakin akan memintanya karena mereka tidak ingin pasar mereka terbuka," ujar Trump.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, menyatakan Beijing tetap berkomitmen pada aturan perdagangan internasional dan akan mencari dukungan dari negara-negara lain untuk melawan tekanan sepihak dari AS.
"Beberapa negara mementingkan diri sendiri, menggunakan tekanan dan intimidasi, terlibat dalam transaksi koersif, dan memicu perang dagang tanpa alasan. Ini mengungkapkan egoisme ekstrem mereka," kata Wang dalam pertemuan regional di Kazakhstan.