Menteri Keuangan Amerika Serikat, Janet Yellen telah melakukan pertemuan dengan para CEO Bank pada Kamis (18/5) kemarin. Pertemuan ini membahas terkait plafon utang AS. Yellen mengatakan kepada para eksekutif bahwa merger bank mungkin diperlukan karena industri ini harus melewati krisis.
Dia memberikan bukti lebih lanjut bahwa Presiden Joe Biden mulai menerima gagasan merger bank meskipun ada kekhawatiran dari kaum progresif dan pengawasan administrasi terhadap konsentrasi perusahaan.
"Krisis perbankan terburuk sejak 2008, ditandai dengan serangkaian kegagalan bank, anjloknya harga saham, dan kekhawatiran tentang model bisnis bank regional dan menengah, telah memaksa pemikiran ulang regulasi," ujar Yellen dikutip dari CNN, Sabtu (20/5)
Melansir dari CNN, menurutnya para regulator tentu saja lebih memilih merger perusahaan, di mana bank yang kuat mengambil alih bank yang lebih lemah dari pada kegagalan bank yang tidak stabil.
Setelah pertemuan ini, Departemen Keuangan mencatat bahwa Yellen mengatasi tekanan perbankan, menegaskan kembali kekuatan dan kesehatan sistem perbankan AS dan berterima kasih kepada para bankir atas kepemimpinan dan dukungan mereka.
Advertisement
Yellen juga optimis bahwa sistem perbankan negara yang beragam, yang mencakup institusi dengan berbagai ukuran, berada di atas dasar yang kokoh setelah kejadian baru-baru ini.
Yellen menjelaskan, Presiden Biden telah berusaha untuk menindak konsentrasi perusahaan, dengan regulator bergerak untuk memblokir pengambilalihan JetBlue atas Spirit, akuisisi penerbit video game Activision Blizzard senilai USD 69 miliar oleh Microsoft, dan merger besar lainnya.
Namun awal bulan ini, regulator mengizinkan JPMorgan Chase, bank terbesar negara itu, untuk membeli sebagian besar First Republic, bank terbesar kedua yang bangkrut dalam sejarah AS. Kesepakatan itu, yang terjadi setelah proses penawaran yang kompetitif dan ditujukan untuk menstabilkan sistem, menuai kritik tajam dari beberapa orang progresif.