Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo membuka opsi penggunaan lahan hutan untuk ditanami kedelai. Menurutnya, jika petani dan lahannya sudah siap, maka penanaman kedelai di kawasan hutan dapat dilakukan. Hal ini guna mendorong produksi kedelai demi ketahanan pangan nasional.
"Sepanjang sudah clear, petaninya clear, lahan clear, kami akan masuk. Kita 270 juta lebih (jumlah penduduk), kita butuh, apalagi kalau bisa masuk ke lahan tertentu," ujar Syahrul dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI, Senin (29/3).
Kementerian Pertanian tengah mempercepat produksi kedelai dalam waktu 200 hari. Di samping menjalankan program peningkatan produksi kedelan, pihaknya juga memperbanyak jumlah lahan untuk ditanami kedelai. Dia menyebutkan, sebenarnya terdapat beberapa tantangan dalam produksi kedelai ini, salah satunya serangan hama.
"Karena kita punya varietas di bawah kurang lebih 50 cm, sementara kedelai sangat menarik bagi tikus, apalagi hujan, ini menjadi tantangan," katanya.
Apalagi, kedelai dalam negeri memang masih kalah dari segi kualitas dibanding kedelai impor. Hal itu karena kedela impor menggunakan teknologi tertentu dalam peningkatan kualitasnya. "Kedelai kita dibandingkan kedelai Amerika Serikat, tentu saja kita masih kalah. Mereka sudah pakai rekayasa genetika, tapi ini dilarang FAO (organisasi pangan dan pertanian," ujarnya.
Mentan menegaskan, lahan pertanian harus bisa dijaga karena akan memproduksi komoditas terus menerus. "Lahan pertanian ini bukan seperti proyek yang selesai, lalu tahun depan pindah. Ini harus dijaga terus," ujarnya.
Reporter: Athika Rahma
Sumber: Liputan6.com