Pemerintah Siapkan Langkah Antisipasi Resesi Global Akibat Virus Corona

International Monetary Fund (IMF) memprediksi ekonomi global akan mengalami resesi akibat virus corona atau Covid-19. Selain itu, pemulihan krisis ekonomi juga akan lebih lama ketimbang krisis keuangan global pada 2008-2009.

Anisyah Al Faqir
Oleh Anisyah Al Faqir - Reporter
Pemerintah Siapkan Langkah Antisipasi Resesi Global Akibat Virus Corona
krisis ekonomi. shutterstock

International Monetary Fund (IMF) memprediksi ekonomi global akan mengalami resesi akibat virus corona atau Covid-19. Selain itu, pemulihan krisis ekonomi juga akan lebih lama ketimbang krisis keuangan global pada 2008-2009.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, hal ini sudah dibicarakan intens antara pemerintah dan regulator. Terutama antara Bank Indonesia dengan Kementerian Keuangan.

"Kami lakukan diskusi skenario resesi global akan berdampak langsung ke Indonesia seperti apa," kata Perry di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Selasa (31/3).

Dampak resesi tersebut tidak hanya masalah perdagangan yang menyangkut ekspor impor dan investasi, tetapi juga mobilitas manusia secara keseluruhan. "Itu dampak ke Indonesia baik langsung maupun tidak langsung termasuk menurunkan aktivitas ekonomi," imbuhnya.

Dia menjelaskan, berbagai antisipasi itu sudah mulai dikaji. Bahkan pemerintah dalam finalisasi untuk memperkirakan skenario terbaru dalam memitigasi wabah Covid-19, misalnya stimulus fiskal yang lebih besar jika diperlukan.

Hanya saja dia enggan membeberkannya secara langsung dan pembahasanya lebih lanjut. "Lebih baik kita tunggu pengumuman dari pemerintah yang akan menyampaikannya dalam waktu dekat," jelasnya.

Meski begitu, kondisi sektor perbankan di dalam negeri saat ini kuat dalam menghadapi pelemahan ekonomi akibat penyebaran virus corona (Covid-19). Menurutnya, kondisi perbankan saat ini dianggapnya sudah jauh lebih tangguh daripada saat terjadi krisis ekonomi 2008 dan 1998.

Sebagai perbandingan, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio) saat ini berada di kisaran 23 persen. Lalu rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) juga masih terjaga rendah pada 2,5 persen gross atau 1,3 persen nett.

"Jadi secara umum ketahanan industri perbankan kuat," Perry menegaskan.

Kendati begitu, dia tak memungkiri bahwa virus corona telah sangat berdampak terhadap kegiatan perekonomian, baik dalam skala nasional maupun global. Dia mencontohkan, risiko NPL telah membuat kinerja perusahaan berskala kecil atau UMKM merosot.

"Memang debitur kecil mengalami gangguan karena Covid-19. Itu bukan karena mereka mau ngemplang, tapi karena mereka memang tidak bisa bekerja. Ini yang jadi perhatian kita, bagaimana mengurangi beban mereka," ujar dia.

Reporter: Maulandy Rizky Bayu Kencana

Sumber: Liputan6.com

Rekomendasi