Membedah peluang bisnis penyewaan pesawat pribadi

Untuk di kawasan Asia, potensi bisnis pesawat carter di Indonesia masih bagus.

Novita Intan Sari
Oleh Novita Intan Sari - Reporter
Membedah peluang bisnis penyewaan pesawat pribadi
pesawat Jet pribadi. ©2013 Merdeka.com/imam buhori

Tingginya aktivitas sektor pariwisata dan geliat bisnis pengusaha Tanah Air turut serta mendongkrak permintaan layanan penerbangan. Gegap gempita bisnis penerbangan komersil beberapa tahun terakhir tak cuma dinikmati maskapai yang melayani penerbangan berjadwal. Pemain bisnis pesawat sewaan atau carter juga ikut kecipratan rezeki.

Pelaku bisnis pesawat sewaan sudah memiliki pasar yang terbentuk dengan sendirinya. Sejak awal kemunculannya, pengusaha dan korporasi menjadi pelanggan setia pengguna jasa pesawat sewaan. Wajar saja mengingat tipe konsumen seperti itu membutuhkan efisiensi waktu.

Wakil Ketua INACA Penerbangan Tak Berjadwal Carter, Denon Prawiraatmadja tidak menampik, bos-bos dan perusahaan menjadi target pasar terbesar bisnis ini.

"Untuk di kawasan Asia, potensi bisnis pesawat carter di Indonesia masih bagus. Pertumbuhan rata-rata pesawat carter tahun 2014 lalu sekitar 12 persen masih pesat," ujar Denon kepada merdeka.com pekan lalu.

Dengan meluasnya tipe konsumen pesawat sewaan, otomatis potensi bisnis ini semakin besar. Gencarnya promosi sektor pariwisata ikut berperan membesarkan bisnis ini. Apalagi dengan kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan, akses transportasi udara bisa disebut menjadi juara untuk menjangkau potensi wisata daerah terpencil.

"Contohnya di kawasan Kalimantan dan Papua, banyak destinasi wisata yang bagus, ini jadi peluang besar bagi bisnis penerbangan charter," jelas dia.

Denon melihat pelaku bisnis pesawat sewaan di Indonesia masih berpeluang besar meraup untung. Dia mencoba membandingkan dengan kondisi di Brasil. Berdasarkan catatan Denon, Brasil memiliki populasi penerbangan carter 2.000, sementara Indonesia hanya 10 persennya saja. Karena itu dia yakin ceruk bisnis ini masih sangat potensial di Indonesia. Kekuatannya berasal dari jumlah penduduk yang besar.

"Padahal jika melihat penduduk Indonesia dengan Brasil sama saja, padat juga. Untuk kawasan Asia, potensi bisnis pesawat carter di Indonesia masih bagus," katanya.

Pengamat Penerbangan Dudi Sudibyo setuju dengan pendapat tersebut. Keuntungan menjalankan bisnis ini sangat besar. Meski tidak menyebut secara detail besarannya, tipe konsumen yang tak lain dari korporasi besar bisa jadi indikatornya.

"Biasanya yang menyewa berasal dari korporasi. Mereka (perusahaan penerbangan carter) dapat menutupi kerugian sekali mendapatkan kontrak dari penyewa," jelas Dudi.

Dia juga melihat kecenderungan meraup untung dari sewa konsumen individual yang punya banyak uang. Apalagi untuk menggunakan jasa pesawat sewaan, baik jet ataupun helikopter, terbilang mudah selama berkenan merogoh kocek jauh lebih dalam dibanding menggunakan pesawat berjadwal.

"Yang punya uang pasti bisa sewa pesawat. Bisnis penerbangan carter itu prinsipnya untuk cari penyewa siapa cepat pasti dapat peluang," ungkapnya.

Dia optimis bisnis penerbangan carter di Indonesia masih kuat bertahan di tengah kondisi ekonomi yang melambat. "Masih ada celah butuh bertahun-tahun keliatannya untuk kembali normal, pesimis tapi masih terbatas," tutup dia.

Hanya saja, tak boleh dilupakan soal hambatan bisnis ini. Sebut saja soal minimnya dukungan regulasi dari pemangku kepentingan. "Memang kendalanya harga avtur yang tidak pernah turun juga," kata Denon.

Managing Director PT Transnusa Aviaion Mandiri (TransNusa) Bayu Sutanto ikut angkat bicara. Bisnis penerbangan selalu terkait langsung dengan kondisi ekonomi. Jika saat ini perekonomian nasional tengah lesu atau disebutnya mini krisis, maka bisnis sektor penerbangan baik berjadwal maupun carter, otomatis kena imbasnya.

Dia mencontohkan, saat ini kinerja korporasi sektor migas dan tambang tengah tak bergairah. Proyek eksploitasi migas tengah sepi. Akibatnya, aktivitas mereka menggunakan pesawat sewaan menurun dari biasanya. "Mereka jadi mengurangi penggunaan jasa penerbangan carter," kata Bayu.

Dia menceritakan masalah lain yang mengganggu bisnis yang dirintisnya sejak 2011. Persoalan itu datang dari kondisi nilai tukar Rupiah yang terus melemah. Transaksi bisnis penerbangan pesawat carter umumnya berdenominasi dolar Amerika Serikat. Kebutuhan biaya operasional semakin tinggi, tak sebanding dengan pemasukan.

"Kebutuhan biaya operasi penerbangan umumnya 80 persen dalam dolar AS," tutupnya.

Pelaku bisnis pesawat sewaan meminta pemerintah juga memperhatikan mereka. Dalam hal regulasi, mereka meminta dipermudah sehingga dampaknya beban operasional bisa ditekan.

Regulasi teknis penerbangan carter juga diharapkan dibuat lebih longgar dan tak disamakan dengan penerbangan komersil berjadwal.

"Seharusnya penerbangan carter tidak memakai security screening, aturan ini juga tidak berlaku bagi negara lain. Karena kami sudah bekerja sama dengan TNI, aturan itu harus segera dihapuskan," ungkapnya.

Rekomendasi