Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyindir PT Freeport Indonesia. Perusahaan tambang yang berafiliasi ke perusahaan Amerika, Freeport McMoran itu lebih memilih mengimpor ikan ketimbang membeli hasil tangkapan nelayan di Papua untuk konsumsi pegawainya.
"Konsumsi pegawainya (Freeport) sangat besar, kenapa tidak dari nelayan Indonesia , kenapa harus impor kenapa tidak menggunakan hasil nelayan Papua, ikan dari Papua," ucap Susi saat rapat bersama Komisi IV DPR di Senayan, Jakarta, Senin (26/1).
Dari data yang dikantongi Susi, konsumsi ikan di Freeport mencapai 13.000 ton ikan tiap tahunnya. Angka ini tentu saja menambah volume impor ikan Indonesia. Seharusnya, Freeport sadar diri dengan memilih ikan hasil nelayan lokal.
"Kalau ini diprioritaskan saya yakin kesejahteraan nelayan Papua akan meningkat."
Dia mengklaim tidak diam saja dengan kondisi ini. Susi mengaku telah menemui Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Maroef Samsuddin. Dari pertemuan ini, Susi menyebut Freeport akan mengarahkan dana corporate sosial responsibility (CSR) yang dimiliki untuk mengembangkan usaha perikanan nelayan Papua.
"Dan lainnya dan memberikan porsi lebih besar untuk nelayan setempat," tegasnya.
Tidak mau terulang, Susi telah membentuk tim khusus sebagai pengawas di lapangan. Tim ini akan memantau penyaluran CSR serta melihat perilaku Freeport dalam konsumsi ikan. Hal ini tidak hanya berlaku bagi Freeport tapi perusahaan tambang lainnya di Papua.