Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS membuat maskapai penerbangan perintis Susi Air merugi. Pasalnya, keuntungan penerbangan perintis tidak sebesar penerbangan komersial lainnya.
"Kita rugi besar, karena keuntungan disitu paling cuma 5-10 persen, tapi rupiah depresiasinya sampai 20 persen," ujar Susi Pudjiastuti, pemilik sekaligus CEO Susi Air, di Jakarta, Rabu (19/2).
Untuk menyiasati agar tidak merugi tahun ini, Susi mengaku telah menaikan harga tiket sekitar 10-15 persen. Selain depresiasi rupiah, Susi Air juga sempat mengalami kendala lain dalam mengembangkan usahanya. Dimana, rute Susi Air diambil oleh maskapai perintis yang lebih besar.
"Kita agak kecewa karena kita buka rute maunya kita dijagain 3 tahun, sesuai dengan atura. Tapi yang bandaranya sudah besar di ambil, sudah mau untung malah diambil ATR lain," jelasnya.
Melihat itu, Susi Air kini lebih memilih menerbangi rute-rute di wilayah pedalaman. "Kita mau kerjasama sebagai feeder dari maskapai lain tersebut," tukas dia.