Pegadaian liar di kawasan Jakarta Barat kebanyakan hanya cabang dari koperasi yang kantor pusatnya tersebar di daerah lain. Namun, maraknya usaha penyediaan dana cepat tak berizin ini tetap diminati masyarakat.
Linda, pramuniaga pegadaian liar khusus elektronik yang terletak di perempatan Olimo, Jakarta Barat, mengaku setiap hari selalu ada konsumen yang membawa telepon seluler atau laptop untuk digadaikan.
"Kita kebanyakan pelanggan sih, jadi sudah hafal siapa saja yang ke sini. Kalau orang baru pertama gadai, sebulan enggak banyak, mungkin cuma lima sampai sepuluh (nasabah)," ungkapnya pada merdeka.com, Rabu (4/9).
Pengakuan serupa juga dituturkan Reni, yang juga menggeluti bisnis gadai barang khusus elektronik. Dia mengatakan, karena berlokasi dekat pasar elektronik Harco Glodok, kebanyakan orang menggadaikan ponsel, merek BlackBerry atau iPhone, serta laptop.
Dia mengaku termasuk pilih-pilih barang yang bisa digadaikan. Asal mulus dan memiliki kelengkapan dokumen, baru kiosnya mau menerima.
"Kita selalu cek dulu barangnya, mulus apa enggak, kalau ponsel baru berapa bulan tapi sudah rusak atau ada gores, kita enggak mau terima," bebernya.
Dengan mekanisme sederhana dan syarat yang relatif mudah dipenuhi, Reni mengaku sebulan minimal ada 50 nasabah menggadaikan barang elektronik mereka ke kiosnya.
Keuntungan gadai liar berasal dari bunga, serta harga lelang. Itu sebabnya, barang harus mulus agar mudah dijual kembali. Gambarannya, mereka bisa mendapat untung minimal Rp 250.000 dari biaya gadai sebuah ponsel pintar, jika barang ditebus tepat waktu.
Potensi keuntungan semakin berlipat-lipat jika waktu gadai molor sampai akhirnya barang yang digadai harus dilelang.
"Kalau (omzet) mungkin sampai Rp 50 juta per bulan, tapi hitungan yang tahu persis kantor pusat," kata Reni.
Selain itu, karena berbasis pelanggan yang sudah saling percaya, pihaknya tidak perlu sampai menagih nasabah. Toh, dalam bisnis gadai, beban utama ada di pelanggan, kapan sanggup menebusnya.