Pemerintah mengklaim berhasil menurunkan ketergantungan pembangkit listrik terhadap Bahan Bakar Minyak (BBM), khususnya solar.
Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jarman menyatakan, tahun lalu, rasio penggunaan BBM di pembangkit listrik seluruh Indonesia mencapai 22 persen. Kini, lebih dari separuhnya berhasil dipangkas.
"Saat ini 10,7 persen dari 22 persen pembangkit yang pakai BBM," ungkap Jarman saat ditemui di Hotel Westin, Nusa Dua, Bali, tadi malam, Senin (25/6).
Dengan keberhasilan menurunkan rasio penggunaan solar, alhasil kini pemerintah menggenjot sumber energi lain, khususnya batu bara dan gas. Jarman yakin di masa mendatang, jumlah pembangkit yang menggunakan BBM akan semakin sedikit.
"Rasio penggunaan BBM untuk pembangkit selama ini sudah terus menurun," kata Jarman.
Selain itu, produksi listrik sekarang tidak lagi menyedot alokasi subsidi BBM dari pemerintah. Sebab, pembangkit dari Perusahaan Milik Negara (PLN) sudah diarahkan untuk membeli solar mengikuti harga pasar.
Karena itu Kementerian ESDM memastikan kenaikan harga BBM bersubsidi pekan lalu tidak akan diikuti oleh penaikan kembali Tarif Dasar Listrik (TDL).
"BBM untuk pembangkit listrik tidak disubsidi. Jadi kalau BBM naik tidak berpengaruh pada harga listrik. Karena tidak disubsidi," tandasnya.