Pengendalian konsumsi BBM pakai RFID masih berpotensi bocor

Kendaraan bermotor dinilai masih dapat mengganti pelat nomor kendaraan untuk kemudian mengisi BBM kembali.

Achmad
Oleh Achmad - Reporter
Pengendalian konsumsi BBM pakai RFID masih berpotensi bocor
Pengendalian konsumsi BBM pakai RFID masih berpotensi bocor

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Susilo Siswo Utomo mengatakan kebocoran sistem Radio Frequency Identification (RFID) masih mungkin terjadi. Pasalnya, kendaraan bermotor bisa saja menukar pelat kendaraan untuk kemudian mengisi Bahan Bakar Minyak (BBM) kembali.

"Kenapa nggak bisa. Kendaraan bermotor bisa saja menukar pelat kendaraan dengan yang lainnya, kemudian mengisi kembali di SPBU," ujarnya sembari tersenyum saat ditemui di kantornya, Jakarta, Jumat (17/5).

Nantinya, lanjut Susilo, payung hukum RFID tidak menggunakan Surat Keputusan Bersama (SKB) menteri namun cukup dengan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Permen ESDM) saja.

"Bukan SKB, tetapi kemarin yang akan dikeluarkan Permen ESDM," ucapnya.

Menurutnya RFID ini bisa digunakan untuk menyimpan seluruh data masyarakat. RFID sebetulnya sebagai bentuk langkah pengawasan untuk menyelamatkan BBM bersubsidi.

"Bisa dipakai seluruh data, tapi memang supaya pemanfaatan BBM bersubsidi lebih selektif," tuturnya.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina Ali Mundakir menjelaskan untuk mencegah kebocoran data, pihaknya memastikan sudah ada sistem yang memproteksinya. RFID nantinya hanya dibuat untuk mencatat pelat kendaraan bermotor dan bukan identitas pemilik kendaraan bermotor.

Data pemilik kendaraan bermotor tersebut akan dipegang oleh PT Pertamina. Perseroan memastikan PT Inti hanya mengurusi proses pengadaan alatnya saja.

"Yang direkam pelat nomor yang di kendaraan, kalau identitas, nggaklah bisa dimarahin orang kita," jelasnya.

Rekomendasi