Pengrajin batik makin sedikit

Industri batik nasional tengah berkembang, tapi tidak diimbangi dengan peningkatan jumlah pengrajin.

Pandasurya Wijaya
Oleh Pandasurya Wijaya - Reporter
Pengrajin batik makin sedikit
Belajar batik. ©2012 Merdeka.com/Dwi Narwoko

Batik sudah ditetapkan menjadi salah satu warisan budaya Indonesia yang diakui dunia terhitung sejak 2009 lalu. Namun, sebagai negara asal batik, industri batik Indonesia tengah menghadapi persoalan cukup serius.

Menteri Perindustrian MS Hidayat mengungkapkan, saat ini industri batik nasional semakin berkembang. Namun kondisi ini kontraproduktif lantaran tidak diimbangi dengan regenerasi pembuat batik. Pembuat batik di Indonesia terus berkurang dari waktu ke waktu.

"Minimnya regenerasi para pembuat batik menjadikan jumlah mereka makin lama makin sedikit," ujar Hidayat dalam pameran Batik Warisan Budaya V di Kementerian Perindustrian di Jakarta, Selasa (24/7).

Agar eksistensi batik Indonesia tetap terjaga di masa depan, Hidayat berharap kalangan generasi muda berperan aktif dalam pelestarian dan pembuatan batik. 

"Saya tidak ingin ada pihak luar mengklaim batik warisan budaya kita hanya karena keengganan kita sendiri untuk melestarikannya," jelas Menperin.

Kebanyakan produk batik dikembangkan oleh pengusaha kecil. Usaha batik menjadi bagian dari kegiatan ekonomi masyarakat yang pada akhirnya mendorong struktur perekonomian nasional yang semakin berkembang.

Hidayat berjanji, pihaknya dan instansi terkait akan terus berupaya meningkatkan pembinaan dan pengembangan batik nasional. Caranya melalui pelatihan untuk peningkatan SDM dan magang, bantuan tenaga ahli desain, akses permodalan serta bantuan peralatan.

"Sudah menjadi kewajiban kita bersama untuk mengembangkan dan melestarikan batik sebagai ikon kebanggaan bangsa Indonesia," katanya.

Rekomendasi