Pukulan Corona Pada Sektor Pertanian Masih Bakal Berlanjut Hingga Tahun Depan

Selasa, 16 Juni 2020 19:10 Reporter : Anisyah Al Faqir
Pukulan Corona Pada Sektor Pertanian Masih Bakal Berlanjut Hingga Tahun Depan Menko Airlangga bertemu Menteri Belanda Sigrid Kaag. ©2020 Foto: Farhan/Humas Ekon

Merdeka.com - Seluruh sektor ekonomi terkena dampak dari pandemi corona. Tak terkecuali sektor pertanian. Diperkirakan hal ini masih berlanjut pada tahun depan. Salah satunya pertumbuhan perekonomian petani yang mengalami penurunan menjadi 0,85 persen dari sebelumnya 1,8 persen.

"Persoalan kita ini pertumbuhan petani, perekonomiannya dari 1,8 persen menjadi 0,85 persen," kata Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam Webinar IPMI bertema 'Triple Helix Innovation for Sustainable Food System in Indonesia Amid Covid-19', Jakarta, Selasa (16/6).

Padahal sektor pertanian diharapkan jadi faktor penunjang dalam situasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Namun nyatanya angka tersebut tidak mengalami kenaikan.

Rupanya, kata Menko Airlangga, hal ini dipicu dari menurunnya permintaan dari konsumsi. Sebagaimana diketahui, perekonomian Indonesia ditopang oleh konsumsi, apalagi selama bulan Ramadan kerap meningkat dari biasanya. Hanya saja tahun ini yang terjadi adalah deflasi dari sejumlah komoditas bahan pangan.

"Ramadan kali ini tidak seperti biasanya, terjadi deflasi di beberapa komoditas pokok. Demand yang tinggi tidak terjadi," tutur Menko Airlangga.

Dilihat dari indeks perkembangan harga pangan, secara bulanan terjadi deflasi 0,49 persen (mtm) pada Mei 2020. Perkembangan nilai tukar petani mengalami penurunan seiring dengan penurunan harga pangan. Mulai dari tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan rakyat.

Namun, dalam catatan pemerintah, jika nilai tukar petani terlalu rendah, akan mendorong petani untuk enggan melakukan penanaman di musim kedua. Sementara keterbatasan musim hujan juga akan mempengaruhi hal itu.

"Kita berharap petani menerima insentif lewat bantuan langsung tunai sebesar Rp300.000 dan bantuan yang lain Rp600.000 untuk 3 bulan agar nilai tukar naik," kata Menko Airlangga.

Sementara itu di masa pandemi ini, sektor yang mampu bertahan yaitu peternakan dan perikanan nelayan dan budidaya. Tentu saja, kata Menko Airlangga, salah satu ekspor dari perikanan budidaya menjadi berkelanjutan.

1 dari 1 halaman

Pemerintah Dorong Swasembada Antisipasi Krisis Pangan Saat Pandemi Corona

swasembada antisipasi krisis pangan saat pandemi corona rev1

Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan potensi terjadinya krisis pangan di masa pandemi Covid-19. Indeks harga pangan dunia periode Januari-Mei 2020 cenderung mengalami penurunan.

"Penurunan relatif tajam terjadi pada harga gula, minyak nabati dan hasil peternakan," kata Airlangga dalam Webinar IPMI bertema 'Triple Helix Innovation for Sustainable Food System in Indonesia Amid Covid-19', Jakarta, Selasa (16/6).

Menko Airlangga melanjutkan organisasi pangan dunia, FAO telah mengeluarkan kajian yang menyatakan di masa depan negara-negara dunia akan menghadapi musim panas berkepanjangan. Beberapa negara-negara ASEAN juga akan mengalami kekeringan seperti India, Thailand dan Vietnam.

Berdasarkan data International Grains Council (IGC) memproyeksikan produksi gandum global terus meningkat sekitar 4,1 persen tahun 2019/2020. Namun pada tahun berikutnya akan mengalami penurunan 0,3 persen di tahun 2020/2021.

Selain itu, data US Department of Agriculture (USDA) International Grains Council (IGC) memproyeksikan produksi padi global pada 2019/2020 menurun -0,4 persen sampai -0,5 persen dibandingkan produksi tahun 2018/2019.

Ancaman krisis pangan di masa pandemi ini semakin nyata. India dan Vietnam sebagai negara pengekspor bahan pangan menghentikan ekspornya. "India sudah melarang ekspor. Vietnam juga selama pandemi melarang ekspor," kata Menko Airlangga.

[bim]

Baca juga:
Pemerintah Dorong Swasembada Antisipasi Krisis Pangan Saat Pandemi Corona
Mengenal Jogja Berkebun, Komunitas Bercocok Tanam di Kalangan Anak Muda
Kementan Surati 10 Negara Soal Impor Produk Pertanian Tak Layak
Pandemi Covid-19 jadi Momentum Reformasi Besar-besaran Sektor Pertanian
Punya Potensi Besar, Jombang Kembangkan Pertanian Durian Unggul Seluas 250 Hektare
Pengembangan Sektor Pertanian Butuh Anggaran Rp80 Triliun
Mantan Mendes Eko Imbau Ada BUMN Koordinasi Bisnis di Sektor Pertanian

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini