Pisang Goreng Madu Bu Nanik Sudah Diekspor ke Thailand Hingga Australia

Rabu, 20 November 2019 09:00 Reporter : Wilfridus Setu Embu
Pisang Goreng Madu Bu Nanik Sudah Diekspor ke Thailand Hingga Australia Founder Pisang Goreng Madu, Nanik Soelistiowati. ©2019 Merdeka.com/Wilfridus Setu Embu

Merdeka.com - Dengan perjuangan panjang, usaha Pisang Goreng Madu Bu Nanik yang didirikan sejak 2007 mulai dikenal dan disukai orang. Meskipun demikian, pertumbuhan penjualan atau pesanan tidak berlangsung signifikan.

"Mulai laris kalau bilang lama juga Mas, kan saya testernya banyak. Yang beli, sehari saja saya jual 20 pisang saja susah sekali," kata Nanik di Jakarta.

Keuletan dan usaha kemudian membuahkan hasil. Pisang Goreng Madu buatannya kemudian mendapatkan tanggapan positif dan dicari-cari oleh pelanggan. Kini, outlet pisang goreng madu Bu Nanik yang berada di Tanjung Duren, Jakarta Barat, tidak pernah sepi pesanan.

Usaha yang dimulai dengan modal awal tidak sampai Rp2 juta, gerobak pemberian teman serta cuma mampu memproduksi sekitar 5 peti pisang tersebut, kini mampu memproduksi hingga 3 hingga 4 ton pisang.

Jika dulu Nanik harus bekerja sendiri, maka kini pekerjaannya dibantu oleh 85 orang karyawan. Suplier pisang raja sebagai bahan baku pun makin luas, yakni dari Cianjur, Bogor, Lampung, dan Semarang. Nanik menegaskan menjaga mutu produk merupakan salah satu kekuatannya dalam bertahan di tengah persaingan usaha.

"Mutu itu nomor 1 yah, dulu bentuk pisangnya acak-acakan. Sekarang mulai berbentuk, packaging dibagusin. Perbaikan manajemen bisnis," ujar dia.

Tingginya permintaan konsumen pada produknya bahkan berhasil memikat investor untuk menanamkan modal. Sayangnya, tawaran tersebut ditampiknya. Meski enggan menyampaikan identitas investor, dia hanya menjelaskan, dirinya sempat ditawarkan untuk memasarkan produk hingga ke Thailand dan Vietnam. Lokasi di mana investor tersebut tengah melakukan ekspansi bisnis.

"Pernah ditawarkan salah satu platform online untuk buka cabang di luar negeri. Tapi saya tidak menyanggupinya," katanya.

Pisang Goreng Madu pun sudah dinikmati hingga ke luar negeri melalui sistem jasa titip alias jastip. Lewat cara inilah, produknya berhasil mencapai Hongkong, Singapura, bahkan Australia. "Seperti jastip yang ke Australia, itu pernah dijual USD 10 untuk 5 buah pisang goreng madu," katanya.

1 dari 1 halaman

Masuk ke Pasar Online

Bergabungnya dua anaknya dalam bisnis, membawa cukup banyak perubahan. Salah satunya, pergerakan Pisang Madu Bu Nanik menuju platform digital. Imbasnya terhadap kenaikan omzet memang lumayan.

Meski enggan menyebut jumlah omzet, dia mencatat kenaikan omzet sekitar 20 persen hingga 30 persen setelah memanfaatkan platform digital.

"Kita dulu, pakai telpon. Mulai ikut media online, anak-anak pulang dari sekolah, kolaborasi dengan saya. Mereka bagian manajemen dan marketing, saya bagian produksi."

Dia mengakui, memang memotivasi anak-anaknya agar ikut membangun bisnis yang sudah dia rintis.

"Awalnya tujuan mulai nyekolahin anak, kan bukan orang yang terlalu berada. Bekalin ilmu dengan sekolah. (Setelah selesai sekolah) saya tanya mau kerja apa bantu mami usaha, saya motivasi kalau kerja sama ibu buat ibu, kalau kerja buat orang maju buat orang. Lalu mereka mau jual pisang, maka kita kolaborasi buka usaha," ungkapnya.

Putri Nanik sekaligus COO CV. Bu Nanik Group, Michelle K Molloy mengatakan, alasan utama usahanya memanfaatkan platform online tidak lain sebagai upaya mengikuti perkembangan zaman. Tak hanya itu, perbaikan mutu dan tampilan produk juga terus dilakukan.

"Kalau hanya diam di tempat kita akan stuck, sedangkan zaman berubah terus, maka bagaimana kita mengikuti perkembangan."

"Produk dulu kita tidak dicetak, berantakan. Sekarang dicetak, jadi setiap orang dapat ukuran yang sama. Lalu kemasan, lalu branding. Sekarang kita punya paling baru pisang madu dengan topping. Ini untuk menyasar generasi anak muda yang memang suka toping," jelas dia.

Terkait rencana bisnis ke depan, Michelle mengaku masih akan mengembangkan dan meningkat nilai tambah dari pisang madu. Ketika ditanya apakah berniat untuk merambah ke bisnis franchise, dia mengatakan, masih banyak hal harus disiapkan untuk sampai ke level itu. Terutama dari segi kemampuan memastikan standar produk yang akan dijual.

"Mungkin kalau bisa setengah mateng, terus bisa digoreng lagi dan hasilnya 100 persen, maksimal, baru berani franchise. Kalau franchise kan tidak semua orang punya kemampuan culinary yang sama. Takutnya mutu dan kualitasnya beda," tandasnya. [azz]

Baca juga:
Menteri Edhy: Tidak Mungkin Negara Bangun Ekonomi Tanpa Pengusaha
Mulai Tahun Depan, BPS Tak Lagi Merilis Indeks Tendensi Bisnis
Survei: Perusahaan RI Dinilai Paling Optimis Terhadap Prospek Bisnis
Indeks Bisnis Kuartal III-2019 Turun Jadi 105,33
Jokowi Kirim Luhut Hadiri Pameran Bisnis di China

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini