Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Pedagang keluhkan ramainya Pasar Tanah Abang tapi penjualan malah anjlok

Pedagang keluhkan ramainya Pasar Tanah Abang tapi penjualan malah anjlok pedagang Pasar Tanah Abang jelang lebaran. ©2018 Merdeka.com/Wilfridus Setu Embu

Merdeka.com - Mendekati hari raya Idul Fitri, tepatnya H-2 Lebaran, Pasar Tanah Abang terlihat ramai oleh aktivitas jual beli. Pantauan Merdeka.com, sebagian besar pengunjung pusat grosir tersebut memadati tempat-tempat penjualan pakaian.

Aktivitas tak hanya terjadi di dalam kompleks pasar. Pedagang, yang didominasi oleh pedagang pakaian juga memadati area trotoar di sekitar kompleks pasar yang dibangun oleh Yustinus Vinck pada tahun 1735 silam itu.

Sayangnya, penelusuran Merdeka.com menemukan bahwa ramai riuhnya pembeli yang datang ternyata tak cukup untuk menambah pendapatan pedagang. Beberapa pedagang bahkan menyampaikan bahwa pendapatan saat menjelang Lebaran justru jauh lebih kecil dibandingkan hari biasa.

Pedagang busana Muslim di Pasar Tanah Abang Blok B, Rian, mengakui bahwa meskipun pengunjung ramai, tapi pemasukannya di beberapa hari menjelang Lebaran menurun jauh dibandingkan hari biasa.

"Pengunjung memang, banyak. Tapi, kalau dilihat dari segi omzet. Malah lebih baik (omzet lebih banyak) itu sebelum puasa," ungkapnya kepada Merdeka.com, Jakarta, Rabu (13/6).

Dia menjelaskan, omzet terus menurun sejak H-7 lebaran hingga hari ini. Pada H-7 pria yang berdomisili di Tangerang ini bisa meraup hingga Rp 15 juta dalam satu hari. Pada H-2, dia cuma bisa mendapat Rp 2 juta sehari.

"Kalau sebelum puasa, bisa dapat kira-kira sampai Rp 30 juta sehari," ujar Rian.

Kecilnya omzet menjelang Lebaran adalah hal yang lumrah dan cukup beralasan bagi pria 39 tahun itu. Sebab, aktivitas jual beli yang sesungguhnya ramai justru terjadi sebelum puasa dan Lebaran.

Sebagian besar pembeli yang datang ke Tanah Abang sebenarnya pedagang juga di beberapa wilayah di luar Jakarta dan Jawa. Mereka membeli secara grosir untuk dijual kembali jelang lebaran di daerah masing-masing.

"Di sini kan grosir ya. Kebanyakan pembeli datang dari luar. Dia belanja sebelumnya untuk stoknya. Begitu mulai puasa, dia tinggal jual," katanya.

Karena itu dia mengaku maklum jika tak banyak yang belanja sebab, saat ini semua pelanggan sudah fokus pada bisnis mereka masing-masing, lagi pula kata dia, berbelanja di saat jelang Lebaran tidak terlalu menguntungkan bagi pedagang dari daerah.

"Biasa sih. Kalau jelang puasa kan orang perhitungkan pertama fisik pasti tidak cukup kuat, ekspedisi pada penuh. Kalau pun ada ekspedisi yang buka kan lewat jalur udara. Jadi mahal," kisah Rian.

"Kalau sekarang apa pengunjung banyak? Memang banyak. Tapi dari sekitar Jabodetabek. Kebanyakan bukan beli grosir tapi eceran. Kalau saya pangsa pasar sebenarnya itu mereka dari luar Jabodetabek, yang belinya grosir," jelas dia.

Tapi bisnis harus terus berjalan. Upaya untuk tetap menarik pembeli dan mengerek omzet terus dilakukan. Tidak saja oleh Rian, tapi juga pedagang-pedagang lain. Salah satunya Melky.

Melky mengatakan strategi yang kerap dia pakai untuk menjaring pembeli adalah dengan memberikan potongan harga untuk aneka pakaian yang dia jual.

"Jadi saya jual obral. Sekitar 30 persen. Paling mahal itu saya jual kalau mau lebaran Rp 90.000. kalau biasanya itu bisa Rp 150.000," ujarnya.

Trik ini, kata dia, cukup ampuh untuk menjaga pemasukan agar tak berkurang terlalu dalam. "Lumayanlah sehari bisa bawa pulang Rp 2.000.000 juta," tandasnya.

(mdk/idr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP