OJK Cari Strategi Atasi Peningkatan Kredit Macet
Merdeka.com - Bank Indonesia (BI) mencatat, rasio kredit bermasalah (NPL/non performing loan) perbankan dalam negeri mengalami peningkatan di saat penyaluran kredit melambat. NPL perbankan pada Oktober meningkat jadi 2,73 persen (gross) dan 1,25 persen (nett).
Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan, peningkatan NPL tersebut sebagai imbas ekonomi global yang mengalami perlambatan. Meski begitu, Indonesia terbilang lebih baik dari negara lain, terlihat dari pertumbuhan ekonomi yang masih di atas 5 persen.
"Kita masih mending, negara lain lebih parah," kata Wimboh di rumah dinas Menteri Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, Jalan Widya Chandra V, Jakarta Selatan, Rabu (25/12).
Meski demikian, Indonesia harus mencari alternatif sumber pertumbuhan ekonomi baru. Menurutnya, pemerintah harus bisa menciptakan sumber baru dari potensi ekonomi yang belum tersentuh.
Untuk itu, perlu kerja sama dan sinergi dalam memperluas kesempatan kerja dan memperbesar ekspor. Termasuk bisa lebih efisien dalam proses perizinan agar sinergi lintas sektor mendorong pertumbuhan ekonomi.
"Sektor keuangan harus lebih proaktif untuk mendorong pertumbuhan," ujarnya.
Catatan Bank Indonesia
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comGubernur BI, Perry Warjiyo mengatakan, meningkatnya NPL gross disebabkan dengan kondisi perusahaan yang masih belum mau melakukan ekspansi. "Tapi, dengan NPL nett yang masih rendah, dipastikan perbankan membentuk cadangan yang cukup untuk resiko NPL ini," katanya.
Sebagai informasi, NPL pada Oktober 2019 meningkat dibanding bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 2,66 persen (gross) atau 1,18 persen (net). NPL pada Oktober 2019 juga merupakan posisi tertinggi sepanjang 2019.
Sementara, penyaluran kredit juga tumbuh melambat pada Oktober 2019, yakni hanya 6,53 persen. Sebelumnya, pertumbuhan kredit berada di angka 7,89 persen.
(mdk/azz)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya