Mimpi Budi Waseso ciptakan kopi ganja khas Indonesia
Merdeka.com - Direktur Utama Badan Urusan Logistik (Bulog), Budi Waseso, memperkenalkan sebuah brand kopi bernama Kopi Jendral. Dia menceritakan, tujuan pembuatan dari Kopi Jendral, ialah membantu mengembangkan usaha kopi di Indonesia dan meningkatkan kesejahteraan petani-petani kopi lokal.
Buwas menjelaskan, untuk saat ini baru tersedia dua jenis kopi dalam merek kopinya, yakni Robusta Temanggung dan Arabika Gayo. Namun begitu, dia berjanji akan merangkul lebih banyak jenis kopi Nusantara yang telah menjadi kesenangan masyarakat Indonesia. Seperti, Flores Bajawa, Papua Wamena, Sumatera Mandailing, sampai yang masih asing di telinga semisal Sunda Gulali.
"Bahkan kita akan buat kopi campuran atau kopi yang di-mix. Namanya kopi ganja, campuran kopi Gayo dan Java," ujar dia di Trafique Cafe, Jakarta, Selasa (8/5).
Dia melanjutkan, akan memasarkan Kopi Jendral melalui pengembangan usaha kecil dan menengah (UKM). Nantinya, Dirut Perum Bulog itu akan menyediakan business-in-a-box bertajuk 'Pojok Ngopi Jendral' bagi siapa saja yang ingin membuka usaha kopi dengan modal tak banyak.
Terkait penamaan brand, dia menyatakan, itu bukan sebuah bentuk promosi dirinya sebagai jenderal polisi bintang tiga. Melainkan, mengacu pada definisi 'Jendral' tanpa huruf 'e' di tengah kata yang memiliki makna 'umum' seperti arti kata 'General'.
"Sebagai sebuah brand, Kopi Jendral ini bukan berarti jabatan atau gelar, tapi kopi 'umum' atau 'semua'. Sehingga kopi ini inklusif dalam konteks penikmatnya dan jenis biji kopinya," tukas Buwas.
Asal usul Kopi Jendral
Dalam kesempatan tersebut, Buwas menceritakan ide terbentuknya Kopi Jendral, yaitu ketika dia mengunjungi dataran tinggi Gayo di Aceh pada saat masa akhir jabatannya sebagai Ketua Badan Narkotika Nasional (BNN) pada Februari 2018.
Dia menemukan fakta bahwa banyak lahan di sana yang ditanami tanaman ganja. Khawatir bila ganja dipakai untuk hal yang negatif, dia meminta para petani lokal untuk menanami lahannya dengan kopi.
"Awalnya mereka ragu tidak memiliki pembeli atau pasar untuk memperjualbelikan hasil kopinya. Oleh karena itu, saya berjanji untuk membantu mereka dengan membeli produksi kopi sang petani," jelasnya.
Reporter: Maulandy Rizky Bayu KencanaSumber: Liputan6.com
(mdk/bim)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya