Menteri Sri Mulyani Siapkan Amunisi ini Perangi Kejahatan Kerah Putih

Senin, 8 Juli 2019 20:28 Reporter : Anggun P. Situmorang
Menteri Sri Mulyani Siapkan Amunisi ini Perangi Kejahatan Kerah Putih Menlu dan Menkeu Sri Mulyani. Instagram@sekretariat.kabinet

Merdeka.com - Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, membentuk dua direktorat baru di bawah Direktorat Jenderal Pajak. Dua direktorat tersebut adalah Direktorat Data dan Informasi Perpajakan dan Direktorat Teknologi Informasi dan Komunikasi.

Pada kesempatan tersebut, Menteri Sri Mulyani juga melantik 8 pejabat eselon II di lingkungan Sekretariat Jenderal, Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak, Ditjen Perbendaharaan dan Badan Kebijakan Fiskal, serta 18 (delapan belas) pejabat eselon III di lingkungan Sekretariat Jenderal dan Direktorat Jenderal Pajak.

Menteri Sri Mulyani mengatakan, pembentukan direktorat baru ini ditujukan agar profesi yang berada di lembaga keuangan seperti pengawas keuangan semisal Kantor Akuntan Publik, Akuntansi, Aktuaris, Valuer atau Appraisal semakin kompeten dalam menjaga kreadibilitasnya.

"Ini profesi-profesi yang akan jadi simbol apakah Republik Indonesia memiliki sekelompok manusia yang profesional dan punya kredibilitas sesuai teknisnya. Supaya institusi-institusi ini menjalankan amanah sesuai tugas mereka," ujar Menteri Sri Mulyani di Kantor DJP, Jakarta, Senin (8/7).

Direktorat tersebut nantinya, kata Menteri Sri Mulyani, akan menjalin hubungan yang intens dengan berbagai asosiasi yang bergerak disektor industri jasa tersebut. Tujuannya, supaya lembaga-lembaga itu tidak lagi melakukan manipulasi data, khususnya terhadap laporan keuangan.

"Saya ingin ada kerjasama dengan asosiasi-asosiasi tersebut untuk meningkatkan reputasi, martabat, kewibawaan mereka, seperti KAP, Valuer, Apprisal yang tidak boleh profesinya jadi sumber manipulasi data. Karena itulah yang disebut kejahatan kerah putih," jelasnya.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia tersebut menambahkan, kredibilitas suatu laporan keuangan perusahaan publik menjadi salah satu indikator utama yang menjadi landasan masyarakat untuk berinvestasi.

"Selama reputasi kita tidak tinggi, masyarakat tidak akan percaya dan akan menghindar. Artinya ketika middle class kita naik, mereka punya tabungan, mereka tidak akan menabung atau investasi di instrumen-instrumen keuangan itu karena dia tidak percaya laporan keuangannya. Maka dia lebih pilih beli emas, beli tanah, ini akan menghalangi kita menciptakan pendalaman pasar keuangan," tandas Menteri Sri Mulyani. [bim]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini