Menko Darmin yakinkan penguatan Dolar kini berbeda dengan krisis 1998, ini alasannya

Selasa, 4 September 2018 13:26 Reporter : Merdeka
Menko Darmin yakinkan penguatan Dolar kini berbeda dengan krisis 1998, ini alasannya Konpers RAPBN 2019. ©Liputan6.com/Fery Pradolo

Merdeka.com - Menteri Koordinator Perekonomian, Darmin Nasution, meminta masyarakat untuk tidak membandingkan nilai tukar Rupiah saat ini dengan saat krisis 1998. Sebab, menurut dia, kondisinya sangat jauh berbeda.

Menko Darmin mengatakan, meski nilai tukar Rupiah sama-sama tembus kisaran Rp 14.000, namun posisi awal Rupiah jauh berbeda. Pada 1998, Rupiah tembus Rp 14.000 setelah sebelumnya berada di posisi Rp 2.800 per Dolar Amerika Serikat (USD).

"Gini deh, jangan dibandingkan Rp 14.000 sekarang dengan 20 tahun lalu. Sekarang dari Rp 13.000 ke Rp 14.000. Tahun 2014, dari Rp 12.000 ke Rp 14.000. Maksud saya, cara membandingkan juga, ya dijelaskan lah," ujar dia di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (4/9).

Dia mengaku heran dengan pihak-pihak tertentu yang selalu membanding-bandingkan nilai tukar Rupiah saat ini dengan saat krisis. "Saya heran itu ada artikel di salah satu pers internasional yang membandingkan itu tembus angka terendah 1998-1999. Eh persoalan tahun 1998 itu enam kali lipat itu," kata dia.

Menko Darmin menyatakan, saat ini kondisi ekonomi Indonesia jauh lebih baik dibandingkan pada 1998. Meski diakui saat ini Indonesia juga punya permasalahan yaitu soal transaksi berjalan yang defisit.

"Kita fundamental ekonomi masih oke. Kelemahan kita hanya transaksi berjalan yang defisit. Berapa? 3 persen. Lebih kecil dari 2014 yaitu 4,2 persen. Masih lebih kecil dari Brasil, Turki, Argentina, itu lah. Betul, kita lebih kecil. Coba yang lain, inflasi. Di Argentina berapa? Sekarang 30 persenan, setahun yang lalu 60. Kita gimana? Malah deflasi. Pertumbuhan, oke kita 5 koma persen," jelas dia.

Oleh sebab itu, jika dilihat dari sisi mana pun, lanjut dia, kondisi ekonomi Indonesia masih jauh lebih baik dibandingkan 1998.

"Dilihat dari sudut mana pun. Meski pun kita ada defisit transaksi berjalan, ini bukan penyakit baru. Dari 40 tahun yang lalu transaksi berjalan ini defisit. Memang ini agak besar tapi enggak setinggi 2014, tahun 1994-1995, tidak setinggi 1984. Tolong membacanya, membandingkannya yang fair," tandas dia.

Reporter: Septian Deny
Sumber: Liputan6.com [bim]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini