Menko Airlangga: Surplus Neraca Perdagangan Catat Rekor Tertinggi Sepanjang Masa

Selasa, 17 Mei 2022 20:50 Reporter : Anisyah Al Faqir
Menko Airlangga: Surplus Neraca Perdagangan Catat Rekor Tertinggi Sepanjang Masa Menko Airlangga. ©2020 Foto: Lutfi/Humas Ekon

Merdeka.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) mengalami surplus berturut-turut selama 2 tahun terakhir. Per April 2022, NPI mencetak surplus sebesar USD 7,56 miliar. Angka tersebut merupakan rekor tertinggi yang berhasil melampaui bulan Oktober 2021 dengan nilai sebesar USD 5,74 miliar.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan, pencapaian ini membawa perekonomian Indonesia menjadi lebih tangguh.

"Kita bersyukur bahwa salah satu engine utama pertumbuhan ekonomi ini terus mengalami performa gemilang dan bahkan kembali mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa,” kata Airlangga dalam keterangan resminya, Jakarta, Selasa (17/5).

Apalagi, neraca perdagangan merupakan salah satu indikator utama dalam meningkatkan cadangan devisa dan menjaga ketahanan sektor eksternal Indonesia.

"Neraca perdagangan merupakan determinan yang sangat penting dalam mendorong percepatan pemulihan ekonomi dan menjaga ketahanan sektor eksternal Indonesia," katanya.

2 dari 3 halaman

Surplus Ekspor

Selain datang dari neraca perdagangan, kinerja positif juga ditunjukkan pada indikator ekspor yang mengalami surplus dengan nilai sebesar USD 27,32 miliar. Angka surplus ekspor juga mampu mengungguli rekor tertinggi sebelumnya pada bulan Maret 2022 yang tercatat mencapai USD 26,50 miliar.

Kinerja surplus pada nilai ekspor tersebut salah satunya dipengaruhi oleh tingginya harga komoditas unggulan saat ini. Antara lain harga CPO sebesar USD 1.682,7 per MT atau tumbuh 56,09 persen (yoy), batubara sebesar USD 302,0 per MT atau tumbuh 238,83 persen (yoy), dan Nikel sebesar USD 33.132,7 per MT atau tumbuh 100,55 persen (yoy).

Selain itu tingginya dominasi sektor industri pada kegiatan ekspor yang mencapai 69,86 persen. Ini juga menjadi stimulus dalam peningkatan nilai surplus ekspor. Sebab kinerja ekspor akan mengarah pada basis komoditas-komoditas dengan nilai tambah yang terus bertumbuh.

Program hilirisasi yang diterapkan Pemerintah untuk mendorong nilai tambah komoditas juga memiliki andil dalam tumbuhnya kinerja ekspor saat ini. Hal ini dapat terlihat dari aktivitas manufaktur yang terus berada di level ekspansif dengan angka Purchasing Managers’ Index (PMI) April 2022 di level 51,9. Naik dari posisi bulan sebelumnya di level 51,3.

Adanya kenaikan tersebut membawa nilai PMI Indonesia berada diatas level PMI negara ASEAN lainnya. Semisal Vietnam (51,7), Malaysia (51,6) dan Myanmar (50,4).

3 dari 3 halaman

Keberhasilan Hilirisasi

Airlangga mengatakan, keberhasilan program hilirisasi tersebut membuat pemerintah akan kian gencar dalam memaksimalkan berbagai potensi kebijakan lainnya. Seperti kerja sama bilateral dan multilateral dalam meningkatkan perdagangan, utamanya dalam peningkatan nilai ekspor Indonesia.

"Selain program hilirisasi, pemerintah akan terus meningkatkan nilai ekspor Indonesia melalui berbagai upaya," kata dia. 

Salah satunya dengan melakukan program promosi ekspor dengan peningkatan kerja sama bilateral dan multilateral. Forum G-20 juga akan dioptimalkan untuk menggali berbagai potensi kerja sama perdagangan dengan berbagai negara.

Sementara itu, dari sisi impor tercatat mengalami penurunan dari periode sebelumnya sebesar -10,01 persen (mtm) pada April 2022 menjadi sebesar USD 19,76 miliar. Namun penurunan tersebut tidak lantas menghambat kegiatan produksi. 

Alasannya, komposisi utama impor didominasi oleh golongan bahan baku/penolong dengan porsi sebesar 78,62 persen. Sehingga produksi barang baru yang bernilai tambah tinggi dapat terus dilakukan produsen yang akan mendorong peningkatan output nasional.

[idr]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini