Menkeu Usul Hanya Ada 1 Materai, Harga Rp10.000 & untuk Transaksi di Atas Rp5 Juta

Rabu, 3 Juli 2019 18:52 Reporter : Yayu Agustini Rahayu
Menkeu Usul Hanya Ada 1 Materai, Harga Rp10.000 & untuk Transaksi di Atas Rp5 Juta Desain Materai Baru. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - Kementerian Keuangan mengusulkan perubahan bea materai menjadi satu harga yaitu Rp10.000 per lembar kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Saat ini bea materai terbagi dua harga yaitu Rp3.000 dan Rp6.000 per lembar.

"Kami mengusulkan di dalam RUU ini penyederhanaan tarif bea meterai hanya menjadi satu tarif saja yang tetap yaitu menjadi Rp10.000," kata Menteri Keuangan, Sri Mulyani, di Ruang Rapat Komisi XI DPR RI, Jakarta, Rabu (3/7).

Dia mengungkapkan, dalam UU ditetapkan sejak tahun 1985, tarif bea meterai sebesar Rp500 dan Rp1.000 dengan maksimal peningkatan tarifnya sebatas 6 kali lipat dari tarif awal. Menurut Menteri Sri Mulyani, hal tersebut sudah tidak sesuai dengan kondisi ekonomi saat ini dengan 34 tahun lalu saat UU tersebut lahir.

Kemudian, dalam perjalananya, di tahun 2000 tarif bea meterai dimaksimalkan menjadi Rp3.000 dan Rp6.000. Tarif tersebut tidak pernah naik lagi sebab terbentur aturan UU yang sudah melebihi batas maksimal 6 kali lipat.

Saat ini, lanjutnya, kondisi perekonomian sudah membaik ditandai dengan pendapatan per kapita Indonesia yang terus meningkat sehingga nilai bea materai maksimal sebesar Rp6.000 yang sudah berlaku belasan tahun sudah tidak relevan dan harus disesuaikan.

"Dalam kurun waktu 17 tahun, PDB per kapita Indonesia telah meningkat hampir 8 kali lipat. Menggunakan data BPS, PDB per kapita tahun 2000 (pertama kali bea materai Rp6.000) adalah Rp6,7 juta sementara PDB per kapita tahun 2017 adalah Rp51,9 juta," ujarnya.

"Maka dari itu, kami usulkan bahwa tarif meterai lebih sederhana menjadi satu tarif yakni Rp10.000," dia menambahkan.

Selanjutnya, pemerintah mengusulkan adanya pengelompokan jenis-jenis dokumen yang harus menggunakan materai.

Seperti diketahui, saat ini materai Rp3.000 dikenakan untuk dokumen yang mencantumkan penerimaan uang di atas Rp250.000 hingga Rp1.000.000 dan materai Rp6.000 digunakan untuk dokumen dengan penerimaan uang di atas Rp1.000.000.

Dalam aturan yang baru, penggunaan materai hanya diwajibkan pada transaksi dengan nominal lebih dari Rp5.000.000. "Ini karena kami memang mendesain RUU ini demi keberpihakan usaha mikro, kecil, dan menengah. Apalagi, transaksi di bawah Rp5.000.000 ini akan dibebaskan dari bea meterai," tuturnya.

Lalu berapa potensi kenaikan penerimaan negara dari adanya kenaikan bea materai tersebut ?

Potensi pendapatan negara dari bea materai ini dikatakan cukup besar yakni mencapai Rp3,8 triliun hanya dari materai tempel saja. "Ini hanya dari materai tempel ada tambahan Rp3,8 triliun," ujarnya.

Seperti diketahui, saat ini materai juga sudah ada dalam bentuk digital. Dan penggunaannya pun cukup banyak.

Namun, dia menyebutkan potensi tambahan pendapatan dari bea materai digital masih belum dikaji. "Kita akan melakukan estimasi berdasarkan dokumen digital sesuai peraturan perundang undang," tutupnya. [bim]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini