LPS sebut perbankan Indonesia aman dari gejolak ekonomi dunia
Merdeka.com - Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Halim Alamsyah, menyatakan bahwa kondisi perbankan dalam negeri saat ini siap dalam menghadapi gejolak perekonomian dunia. Salah satu tandanya ialah pemberian kredit yang disalurkan perbankan lebih banyak menggunakan Rupiah ketimbang Dolar Amerika Serikat atau USD.
"Perbankan kita relatif setelah krisis (tahun) 1997 dan 1998, apalagi dengan pengetatan aturan prudensial dikatakan bahwa perbankan kita cenderung bermain di dalam negeri sendiri lebih banyak mereka condong memberikan kreditnya itu bahkan ke Rupiah lebih banyak kan. Rata-rata cuma 14 persen pemberian kredit terhadap valas," ungkap Halim saat ditemui di Kantornya, Jakarta, Rabu (12/9).
Halim menyebut, selain pada pemberian kredit, penguatan perbankan dalam negeri juga tercemin dari posisi devisa neto (net open position). Sebab, perbankan sangat konservatif dalam memberikan kredit dalam bentuk USD.
"Dan ini juga tercermin dari net open position mereka (perbankan). Mereka tidak pernah lebih dari 10 persen padahal maksimumnya diberikan 20 persen perbandingan antara aset valas dikurangi dengan liabilitas valas," ungkapnya.
Dengan begitu, dirinya menilai, gejolak perekonomian dunia saat ini dampaknya tidak terlalu terlalu besar untuk sektor perbankan di dalam negeri. Sebab, perbankan lebih banyak melakukan transaksi menggunakan Rupiah.
"Jadi perbankan kita gejolak kurs buat mereka mereka enggak takut karena sumber pendaptannya bukan dari valas. Dan mereka pendapatannya dari kredit dalam Rupiah itu," terangnya.
"Saya rasa mereka lebih rasional dalam artian ngapain saya susah-susag cari keuntungan kalau kredit dalam rupiah net interest margin 5 persen. Kalau dalam dolar paling cuma tipis berapa jadi mereka rasional mengejar profit," tutup Halim.
(mdk/bim)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya