Komisi IV DPR Tegaskan Pertanian Bukan Penyebab Inflasi
Merdeka.com - Wakil Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Dedi Mulyadi mengatakan, jangan alergi terhadap produk pertanian, dan harus mengubah pola pikir yang menyudutkan petani sebagai penyebab inflasi. Hal itu dia sampaikan dalam acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pembangunan Pertanian Tahun 2020.
Sedangkan, menurutnya ketika harga mobil, baju, tiket, dan alat elektronik naik tidak pernah disebut inflasi. Menurutnya, pandangan itulah yang menyudutkan petani untuk berproduksi, sehingga dia mengharapkan agar tudingan inflasi jangan ditudingkan ke petani saja.
"Kita tidak boleh alergi dengan produk pertanian, selama ini ada tidak keseimbangan stigma yang dibuat kalau harga cabai naik ketika bulan puasa inflasi, bawang merah naik, harga padi naik inflasi, hampir seluruh produk pertanian yang meningkat sering dituding penyebab inflasi," kata Dedy di Hotel Bidakara, Jakarta, Senin (27/1).
"Tapi tudingan inflasi ditudingkan kepada kehidupan masyarakat yang konsumtif, seperti pulsa naik, karena banyak digunakan," ujarnya.
Menurutnya, hal ini harus dibenahi. Dengan demikian, Komisi IV DPR akan bersinergi dengan Kementerian pertanian, untuk mendorong para petani menjadi masyarakat yang mulia dan terhormat.
Sinergi Kementan dan Kemenkes
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comSelain itu, dirinya juga mendukung Kementerian pertanian bersinergi dengan Kementerian kesehatan, untuk menghasilkan produk pertanian yang menyehatkan warga. Seperti penggunaan pestisida dikurangi, sedangkan pertanian organiknya harus ditingkatkan.
"Komisi IV memandang bahwa infrastruktur pertanian harus dibenahi secara menyeluruh dari hulu sampai ke hilir, baik infrastruktur yang berhubungan dengan kementerian PUPR, Kementerian lingkungan hidup dan kementerian perhutanan, itu yang fokus," ungkapnya.
Selain itu, dia juga berharap dalam dunia pendidikan menerapkan pendidikan karakter pertanian. Menurutnya, dalam pelajaran matematika dan biologi harus dibarengi dengan praktik yang tepat.
"Pendidikan yang merdeka, itu di dalamnya pendidikan yang membangun karakter pertanian, pelajaran matematika dan biologi harus didukung dengan produksi, bukan lagi dengan angka-angka ujian nasional atau ujian kenaikan kelas, sehingga seorang pelajar yang nilai biologinya sembilan, dia adalah seorang entrepreneurship kalo kata menteri UMKM," pungkasnya.
Reporter: Tira Santia
Sumber: Liputan6.com
(mdk/azz)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya