Kisah sukses pedagang bakso jadi pejuang ekonomi mikro

Minggu, 12 November 2017 10:44 Reporter : Idris Rusadi Putra
Kisah sukses pedagang bakso jadi pejuang ekonomi mikro pedagang bakso. ©2013 Merdeka.com

Merdeka.com - Memperingati hari Ulang Tahun Miwon ke-44, PT Miwon Indonesia Bersama Dompet Dhuafa menggelar diskusi interaktif dengan menghadirkan pedagang bakso sebagai narasumber. Uniknya, diskusi ini mengupas tentang makna pahlawan dari kisah perjuangan para pedagang bakso.

Salah seorang pedagang bakso, Midi menceritakan awal perjuangannya memulai usaha pada tahun 1992 lalu. Menurutnya, tidak mudah memulai usaha dari nol karena harus merasakan jatuh bangun dan sulam tambal modal.

"Berkali–kali mencoba mencari tempat yang strategis untuk berjualan namun selalu berujung dengan kegagalan, bahkan terkadang mendapat perlakuan yang kurang baik dari pedagang bakso lainnya. Namun, dengan ikhtiar dan tekad yang kuat akhirnya saya merasakan manisnya perjuangan," ujar Midi dikutip dari keterangan perusahaan di Jakarta, Minggu (12/11).

Kini, usaha Midi semakin maju, dan dia bisa membeli rumah, kendaraan, memiliki peternakan dan bisa menghidupi keluarga serta mertuanya. Bagi Midi, makna pahlawan adalah ketika seseorang mampu hidup mandiri dan berpijak di atas dua kakinya serta berupaya menyiapkan generasi penerus bangsa dengan memberikan pendidikan yang baik.

Kisah berbeda dituturkan oleh Joko, pedagang bakso lainnya. Menurut Joko, dirinya bukan sekedar berdagang tapi juga menyelamatkan nyawa konsumen.

"Nyawa konsumen lebih penting dari pada materi. Saya sangat menyadari, makanan yang dijual dan disajikan sangat berpengaruh terhadap tubuh konsumen. Karena itu, saya tidak ingin membahayakan mereka dengan menggunakan bahan tambah pangan berbahaya seperti boraks," tuturnya.

Dalam pandangan Joko, seorang pahlawan adalah orang yang menjalani profesi dengan kejujuran, kearifan, memperhatikan norma dan aturan serta tidak merugikan pihak lain.

Program Pedagang Tangguh seperti Midi dan Joko adalah beberapa pedagang yang mendapat bantuan dari PT Miwon Indonesia dan Dompet Dhuafa melalui program pemberdayaan masyarakat yang digagas sejak tahun 2011.

Tahun ini merupakan Program Pedagang Tangguh ke-6 dengan sasaran fokus yang sama yaitu para pedagang bakso. Penerima manfaat di tahun keenam kali ini berjumlah 50 pedagang bakso yang terdiri dari 30 pedagang di wilayah Jakarta Selatan dan 20 pedagang bakso di Surabaya. Total mitra pedagang yang sudah dibina dari awal hingga kini sebanyak 350 orang.

Vice President Director PT Miwon Indonesia, Lee Dong Won mengatakan, penguatan kapasitas diimplementasikan melalui pelatihan–pelatihan yang dapat menambah pengayaan dan pemahaman mitra mengenai aspek keamanan pangan, strategi pengembangan wirausaha, pengelolaan keuangan dan penguatan kelembagaan lokal.

"Kami berharap para pedagang bakso dapat lebih mandiri secara finansial, sehingga para pedagang dapat memperbaiki taraf hidup keluarga sambil tetap menyajikan makanan sehat dan layak konsumsi yaitu makanan yang bebas boraks, formalin dan pewarna tekstil," ujar Lee Dong Won.

Sedangkan peran Dompet Dhuafa dalam program ini adalah sebagai mitra pelaksana. Mulai dari seleksi pedagang, pengadaan perlengkapan usaha, hingga pendampingan intensif.

"Agar program tepat sasaran, kami memiliki prosedur terkait seleksi dan verifikasi mitra, melalui assessment yang komprehensif. Dengan terpilihnya mitra yang tepat, maka efektivitas dan keberhasilan program berupa kemandirian ekonomi dapat terwujud," kata Ketua Pengurus Yayasan Dompet Dhuafa, Ismail A. Said.

Menurut Ismail, hal ini sudah lama dibuktikan dengan peningkatan omzet dan penambahan daya beli konsumen yang dialami oleh mitra pedagang yang sudah menerima bantuan program sebelumnya. [idr]

Topik berita Terkait:
  1. Kisah Inspiratif
  2. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini