Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melaporkan bahwa sebanyak 1.236 perusahaan industri mulai berproduksi pertama kali pada tahun 2026 hingga 15 Januari. Langkah ini menjadi indikator positif bagi perekonomian nasional di tengah dinamika global yang penuh tantangan.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan bahwa dimulainya produksi perusahaan-perusahaan ini membuktikan fondasi kuat sektor manufaktur nasional. Sektor ini tetap tangguh meski diwarnai ketidakpastian ekonomi global.
Penyerapan tenaga kerja mencapai 218.892 orang dari perusahaan-perusahaan baru tersebut, menunjukkan kontribusi signifikan terhadap penciptaan lapangan kerja. Target pertumbuhan PDB industri pengolahan nonmigas ditetapkan mencapai 5,51 persen pada tahun 2026.
Advertisement
Advertisement
Sebanyak 1.236 perusahaan industri yang memulai operasi pada tahun 2026 ini sebelumnya telah melaporkan tahap pembangunan pada tahun 2025. Perusahaan-perusahaan ini siap beroperasi penuh dengan dukungan investasi yang substansial.
Total investasi sektor industri pengolahan nonmigas mencapai Rp551,88 triliun, termasuk investasi di luar tanah dan bangunan sebesar Rp444,25 triliun. Angka ini menunjukkan komitmen besar terhadap pengembangan industri.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menekankan bahwa kapasitas produksi baru ini krusial untuk menjaga pasokan industri. Hal ini juga memperkuat struktur manufaktur nasional serta menciptakan lapangan kerja baru yang berkelanjutan.
Advertisement
Kemenperin terus mendorong percepatan industrialisasi dan transformasi industri 4.0 untuk menjaga momentum pertumbuhan. Penguatan industri dari hulu hingga hilir juga menjadi fokus utama.
Advertisement
Pertumbuhan industri manufaktur nasional pada tahun 2026 masih sangat ditopang oleh pasar domestik, menyumbang sekitar 80 persen dari total permintaan. Ini menunjukkan pentingnya kekuatan ekonomi di dalam negeri.
Penguatan pasar domestik dilakukan melalui berbagai kebijakan, termasuk substitusi impor dan peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Optimalisasi belanja pemerintah dan BUMN untuk produk dalam negeri juga menjadi prioritas.
Selain itu, penguatan industri kecil menengah (IKM) agar terintegrasi dalam rantai pasok nasional menjadi bagian penting dari strategi ini. Tujuannya adalah menjadikan produk industri dalam negeri sebagai tuan rumah di pasar sendiri.
Advertisement
Dari sisi ekspor, Kemenperin menargetkan kontribusi produk industri pengolahan nonmigas mencapai 74,85 persen dari total ekspor nasional pada tahun 2026. Target ini sejalan dengan rencana strategis 2025–2029. Diversifikasi pasar ekspor, peningkatan daya saing produk, serta penguatan kerja sama dan promosi di pasar global menjadi kunci pencapaian target ini.
Advertisement
Dalam menghadapi ketidakpastian global dan tantangan industri yang semakin kompleks, Kementerian Perindustrian menginisiasi Strategi Baru Industri Nasional (SBIN). SBIN berfungsi sebagai kerangka kebijakan untuk memperkuat fondasi industri secara berkelanjutan.
Melalui SBIN, Kemenperin mengedepankan pendekatan forward dan backward linkage guna mengoptimalkan keterkaitan sektor hulu, manufaktur, dan jasa. Pendekatan ini bertujuan untuk memperkuat rantai pasok industri dan meningkatkan efisiensi produksi.
SBIN juga diarahkan untuk menopang pelaksanaan program-program prioritas pemerintah, seperti swasembada pangan dan energi. Penguatan industri strategis serta peningkatan kapasitas industri pendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan layanan kesehatan juga termasuk dalam cakupan SBIN.
Advertisement
Dengan penguatan sisi supply dan demand melalui strategi ini, Kemenperin optimistis industri manufaktur nasional akan terus tumbuh di atas 5 persen pada 2026. Hal ini diharapkan memberikan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.
Sumber: AntaraNews