Pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) terintegrasi melalui kerja sama antara Joint venture Contemporary Amperex Technology Co., Limited/CATL–Brunp–Lygend (CBL) dan Indonesia Battery Corporation (IBC) dinilai menjadi langkah strategis untuk memperkuat industri masa depan Indonesia.
Proyek ini dirancang untuk membangun rantai pasok baterai EV secara menyeluruh, mulai dari hulu hingga hilir, mencakup manufaktur, pengolahan material, hingga daur ulang. Upaya tersebut diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem baterai global.
Direktur Utama CBL Indonesia, Wu Zhihui mengatakan, kerja sama ini merupakan bentuk komitmen CBL dan CATL Group untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu kawasan penting dalam ekosistem industri baterai kendaraan listrik di dunia.
"Melalui kerja sama ini, kami ingin membangun rantai pasok baterai yang terintegrasi di Indonesia, dari manufaktur hingga daur ulang, serta menjadikan Indonesia sebagai salah satu basis penting dalam ekosistem baterai global,” ujar Wu dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Senayan, Jakarta.
Proyek ini juga dinilai sejalan dengan agenda hilirisasi industri dan transisi energi nasional, sekaligus membuka peluang transfer teknologi, pengembangan kapasitas industri dalam negeri, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia. Dukungan kebijakan dan pengawasan DPR menjadi faktor penting dalam memastikan proyek berjalan sesuai arah pembangunan nasional.
Di samping itu, Wu Zhihui menyampaikan apresiasi kepada Komisi XII DPR RI atas dukungan yang diberikan sejak tahap awal proyek, termasuk kehadiran anggota DPR dalam acara groundbreaking kerja sama CBL–IBC–ANTAM di Karawang pada Juni 2025.
"Dukungan Komisi XII DPR RI sejak tahap awal proyek menjadi faktor penting bagi kelancaran dan keberlanjutan pengembangan industri baterai ini," katanya.
Advertisement
Secara global, konsorsium ini memiliki rekam jejak kuat dalam pengembangan rantai pasok baterai terintegrasi dari hulu hingga hilir, termasuk teknologi daur ulang baterai pasca-pakai. "Pengalaman dan teknologi tersebut ingin kami bawa ke Indonesia untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat," ujar Wu.
Direktur Utama IBC, Aditya Farhan Arif, menekankan pentingnya dukungan regulasi dan insentif untuk mendorong pengembangan industri baterai kendaraan listrik yang terintegrasi dari hulu hingga hilir di Indonesia.
"Jadi IBC dan partner IBC berkomitmen membangun value chain baterai ini secara terintegrasi dari hulu hingga hilir, sehingga kami berharap ada privilege dalam perhitungan TKDN dari produk kami nanti," ujar Aditya.