Kelompok Tani Berkah Abadi, sebuah kelompok binaan dari PT Wirakarya Sakti (WKS) unit Usaha APP Group, berhasil mencatatkan prestasi gemilang. Mereka sukses memproduksi madu hasil budidaya lebah madu di lahan konsesi tanaman akasia yang berlokasi di Distrik VII Kabupaten Muarojambi dan Tanjungjabung Timur, Jambi.
Produksi madu lebah akasia ini mencapai angka fantastis, yakni 1,7 ton. Keberhasilan ini tidak hanya menunjukkan potensi besar dari budidaya lebah di area hutan akasia, tetapi juga menjadi bukti nyata pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal.
Program ini merupakan bagian dari inisiatif Desa Makmur Peduli Alam (DMPA) PT WKS, yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan melalui kegiatan produktif dan ramah lingkungan. Budidaya madu ini telah berjalan selama lima tahun, memberikan dampak positif yang signifikan.
Advertisement
Advertisement
Perjalanan Budidaya Madu Lebah Akasia: Dari Awal Hingga Panen Raya
Kelompok Tani Berkah Abadi, yang dipimpin oleh Bustomi, telah berdiri sejak lima tahun lalu dan kini beranggotakan sekitar 25 orang dari masyarakat Desa Danau Lamo. Mereka telah mengembangkan usaha budidaya madu lebah akasia ini hingga memiliki empat lokasi budidaya.
Lokasi-lokasi ini memanfaatkan area perkebunan perusahaan di Distrik VII sebagai tempat penempatan kotak-kotak lebah. Proses panen madu biasanya dilakukan setiap 21 hari sekali, meskipun frekuensinya sangat bergantung pada kondisi cuaca.
Pada panen terakhir, kelompok ini berhasil mengumpulkan sekitar 262 kilogram madu. Namun, mereka pernah mencapai puncak produksi tertinggi hingga 1,7 ton, menunjukkan kapasitas produksi yang luar biasa dari budidaya madu lebah akasia ini.
Advertisement
Advertisement
Dampak Ekonomi dan Lingkungan dari Budidaya Madu
Produk madu lebah akasia hasil budidaya Kelompok Tani Berkah Abadi ini telah berhasil dipasarkan ke berbagai daerah. Jangkauan pemasarannya meliputi Jambi, Riau, Palembang, hingga Medan dan bahkan Pulau Jawa, membuktikan kualitas dan daya tarik produk.
Meskipun fluktuasi harga yang ditentukan pembeli menjadi kendala utama, usaha ini telah memberikan tambahan pendapatan yang signifikan bagi para anggota kelompok. Dukungan dari PT WKS sangat krusial dalam keberlangsungan program ini.
Kepala Humas PT WKS, Taufik Qurochman, menjelaskan bahwa perusahaan berperan aktif sejak awal. Dukungan tersebut meliputi penyediaan lokasi, bantuan penyediaan kotak lebah di tahap awal, serta fasilitas akses transportasi. Dari awalnya 150 kotak di Danau Lamo, kini telah berkembang mandiri hingga ribuan kotak di beberapa lokasi, bahkan difasilitasi pelatihan ke kelompok madu senior.
Advertisement
Advertisement
Masa Depan Budidaya Madu Akasia: Harapan dan Keberlanjutan
Program budidaya madu lebah akasia ini merupakan bagian integral dari program DMPA yang dijalankan di desa-desa binaan PT WKS. Di Distrik VII saja, terdapat 17 desa yang berpotensi, dengan empat desa memiliki potensi besar untuk budidaya madu, terutama Desa Danau Lamo dan Desa Suka Maju.
Selain memberikan dampak positif pada ekonomi masyarakat, budidaya madu ini juga berkontribusi pada lingkungan. Praktik budidaya ini ramah lingkungan, tidak menggunakan bahan berbahaya, dan secara tidak langsung mencegah masyarakat membuka lahan atau merambah kawasan hutan.
Program budidaya madu binaan PT WKS di Desa Danau Lamo telah berjalan sejak tahun 2020, tepat di masa pandemi COVID-19, dan terus menunjukkan perkembangan positif. Masyarakat berharap dukungan perusahaan dapat terus berlanjut, baik dalam fasilitasi maupun penguatan pasar, agar usaha madu ini menjadi sumber penghidupan yang berkelanjutan.
Advertisement
Sumber: AntaraNews