Kebijakan penyelamatan ekonomi diumumkan, Rupiah anjlok 115 poin
Merdeka.com - Kebijakan penyelamatan ekonomi yang diumumkan pemerintah dan kebijakan Bank Indonesia ternyata belum mampu membawa nilai tukar Rupiah menguat.
Sentimen dari eksternal berupa belum adanya kepastian kebijakan dari bank sentral AS (The Fed) mengenai stimulus keuangannya, ternyata dampaknya masih sangat besar terhadap pergerakan Rupiah.
Nilai tukar Rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Jumat Sore bergerak melemah sebesar 115 poin menjadi Rp 10.975 dibanding sebelumnya Rp 10.860 per USD. Posisi terendah nilai tukar Rupiah sempat berada di level Rp 11.095.
"Secara jangka pendek Rupiah masih ada di kisaran Rp 10.800. Ini dikarenakan demand dari dolar AS cukup tinggi tidak diseimbangi dengan supply," ujar Analis Pasar Uang, Farial Anwar saat dihubungi wartawan, Jakarta, Jumat (23/8).
Empat paket kebijakan penyelamatan ekonomi yang baru saja dikeluarkan pemerintah, pengaruhnya tidak langsung dirasakan secara jangka pendek. "Kebijakan investasi itu lebih kepada sektor riil bukan kepada portfolio saham investasi," jelas dia.
Sebelumnya terdapat empat paket kebijakan yang merespon pelemahan ekonomi dalam negeri, pertama pemerintah berupaya memperbaiki neraca transaksi berjalan dan menjaga nilai tukar rupiah.
"Untuk sektor padat karya memiliki ekspor minimal 30 persen dari total produksi," ujar Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Hatta Rajasa di Kantor Presiden, Jumat (23/8).
Kedua, pemerintah akan menjaga daya beli masyarakat dan pertumbuhan ekonomi, dengan menjaga defisit tetap berada di kisaran angka 2,38 persen. Ketiga, pemerintah akan menjaga daya beli tingkat inflasi dan yang terakhir adalah percepat investasi, di mana pemerintah akan mengambil langkah-langkah seperti menyederhanakan jenis-jenis investasi menjadi delapan jenis perizinan saja dari 69 jenis perizinan. (mdk/noe)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya