Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Invasi Rusia ke Ukraina Ganggu Momentum Pemulihan Ekonomi Dunia

Invasi Rusia ke Ukraina Ganggu Momentum Pemulihan Ekonomi Dunia Sri Mulyani. ©2017 merdeka.com/Yayu Agustini Rahayu

Merdeka.com - Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati mengatakan, tren pemulihan ekonomi nasional masih terus berlanjut. Tercermin dari PMI Manufaktur Indonesia yang masih berada di level ekspansi dan tingkat kepercayaan konsumen yang pulih di tengah penyebaran omicron.

Hanya saja, saat ini dunia kini dihadapkan pada tantangan akibat konflik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina. Baik negara maju maupun berkembang akan terkena imbas dari perseteruan dua negara Barat tersebut. Sehingga berpotensi mengganggu momentum pemulihan ekonomi di setiap negara.

"Ini semua akan menjadi ancaman yang sangat nyata bagi proses pemulihan ekonomi," kata Menteri Sri Mulyani dalam acara Indonesia Conference 2022: Fitch on Indonesia - Exit Strategy after the Pandemic, Jakarta, Rabu (16/3).

Serangan yang diluncurkan Rusia telah menciptakan ketidakpastian global yang sangat tinggi. Sebab, telah membuat harga sejumlah komoditas meroket.

"Baik harga komoditas atau bukan, yang sekarang kita saksikan sangat meningkat. Peningkatan yang ekstrem pada beberapa komoditas," kata dia.

Apalagi, Rusia telah mendapatkan beberapa sanksi dari sejumlah negara. Akibatnya bisa mengganggu volatilitas di pasar modal dan pasar keuangan pada umumnya.

Kondisi ini pun mengakibatkan pasar negara berkembang akan memperketat kebijakan moneternya. Langkah ini terpaksa diambil untuk mengantisipasi lonjakan inflasi.

"Jadi ini akan menjadi tantangan baru bagi semua negara yang menavigasi proses pemulihan," kata Menteri Sri Mulyani.

Kadin: Masalah Minyak Goreng Bukan Terjadi di Indonesia Saja

minyak goreng bukan terjadi di indonesia sajaRekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Ketua Umum Kamar Dagang Industri Indonesia (KADIN), Arsjad Rasjid menilai, dampak perang Rusia dan Ukraina terhadap perekonomian Indonesia terjadi pada meningkatnya biaya energi. Namun, di sisi lain, ekspor Indonesia juga diuntungkan karena meningkatnya harga komoditas.

"Kita juga menghadapi tantangan baru yaitu perang Ukraina-Rusia, ini memang jauh tapi harus ada kewaspadaan untuk kita. Misalnya biaya energi naik, harga gas naik, harga batubara naik, tapi ada positif buat Indonesia karena Indonesia ekspor komoditas tersebut," kata Arsjad dalam Rakernas Kadin Indonesia Bidang Ketenagakerjaan, Rabu (16/3).

Tak hanya itu, tantangan lainnya adalah meningkatnya beberapa harga bahan pokok makanan yang tidak hanya terjadi di Indonesia tapi juga dunia. Salah satunya minyak goreng.

"Masalah minyak goreng bukan menjadi masalah di kita saja, kenapa harga sawit naik? karena ada minyak sunflower yang diproduksi di Rusia dan Ukraina tidak bisa diekspor dan akhirnya mereka beralih ke sawit. Maka apa yang terjadi, demand sawit naik," ujarnya.

Arsjad juga menyebut komoditas gandum menjadi salah satu bahan pokok makanan yang mengalami kenaikan dampak Perang Rusia-Ukraina. Sebab, Rusia dan Ukraina memproduksi kurang lebih 30 persen daripada gandum dunia.

"Kemarin saya ketemu dengan Menteri Hungaria. Bagaimana kalau Hungaria ada produksi, apakah Indonesia bisa mengambil alternatif dan mengambil barang dari sana. Tapi Pemerintah Hungaria tidak bisa ekspor gandum keluar," ungkapnya.

(mdk/bim)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP