Ini obat pelemahan Rupiah untuk jangka waktu menengah

Rabu, 11 Juli 2018 18:24 Reporter : Anggun P. Situmorang
Terminal Peti Kemas New Priok. ©2016 merdeka.com/Muhammad Luthfi Rahman

Merdeka.com - Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Faisal Basri, mengatakan pemerintah tidak boleh hanya mengandalkan cadangan devisa Bank Indonesia untuk menstabilkan nilai tukar Rupiah yang terus merosot. Pemerintah harus melakukan solusi jangka menengah agar Rupiah segera stabil.

"Solusi jangka menengah adalah bagaimana kita agar tidak bergantung capital inflow. Nah maka current account harus surplus," ujar Faisal di Hotel Milenium, Jakarta, Rabu (11/7).

Faisal mengatakan, pemerintah harus memperbaiki neraca perdagangan yang terus defisit. Salah satunya dengan mencari pasar baru untuk ekspor mengingat saat ini perang dagang tengah terjadi di negara mitra dagang Indonesia seperti China-Amerika Serikat.

Defisit juga dapat ditekan dengan melakukan pertukaran barang (counter trade) dengan negara yang memiliki produk yang dibutuhkan oleh Indonesia. Hal ini dinilai dapat mengurangi pengeluaran untuk impor.

"Harapan saya, perang dagang itu oke diantara negara kaya. Afrika, Asia Selatan kan mereka butuh sawit kita tapi mereka tidak punya uang. Saya ingat Pak Sudrajad Mendag tahun 80an meningkatkan pangsa ekspor. Mereka counter trade dengan negara yang tidak punya uang. Jadi barang apa yang negara tersebut punya, nah barang itu ditukar dengan yang kita butuhkan," jelasnya.

Selain memperbaiki neraca perdagangan, pemerintah juga harus menggenjot pendapatan dari sektor pariwisata. Cara ini dapat dilakukan dengan mengupayakan penerbangan langsung dari negara lain ke objek wisata yang memiliki daya tarik.

"Kedua yang bisa cepat adalah tourism dengan membuka direct flight. Manado itu Sam Ratulangi top twelve (paling banyak dikunjungi) dari China," katanya.

[bim]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini