Ini analisa pemerintah Indonesia soal The Fed pertahankan suku bunga
Merdeka.com - Bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve atau The Fed memutuskan untuk menahan suku bunga acuan Fed Fund Rate (FFR). Namun, The Fed membuka peluang untuk kenaikan suku bunga pada bulan Desember 2016 mendatang.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution mengatakan, kebijakan The Fed yang menahan suku bunganya di kisaran 0,25 persen sampai 0,5 persen menjadi tanda perekonomian Amerika yang tidak baik.
"Itu artinya dia melihat Amerika tidak siap. Artinya ekonomi dia (AS) belum siap. Dia akan naikan itu kalau ekonomi dia cukup baik. Itu sudah pasti, dia tidak naikkan karena ekonomi dia tidak cukup baik," katanya saat ditemui di kantornya, Kamis (3/11).
Darmin menilai, tidak ada yang perlu di khawatirkan Indonesia terkait hal tersebut. Sebab, kondisi ini sudah terjadi selama beberapa bulan dan tidak terjadi apa-apa.
"Waktu enam bulan sampai 10 bulan yang lalu, kita memang lebih sensitif. Tapi setelah dua sampai tiga kali, memang kebetulan baru sekali yang naik. Tapi setelah dilihat, naik pun tidak ada apa-apa kok. Ya, sudah, jangan terlalu menanggapi bahwa ini adalah masalah yang bisa mengacaukan kita," jelasnya.
Dalam pandangan Darmin, ada beberapa hal yang akan dipertimbangkan pemerintah AS sebelum menaikkan suku bunga acuan. Pertama adalah masalah tenaga kerja dan kesempatan kerja, kemudian kedua yaitu inflasi. "Artinya kalau inflasinya rendah ekonomi AS yang berada dikondisi yang tidak baik."
Di tempat berbeda, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjio berpendapat hampir sama dengan Darmin.
"Ketidakpastian pemulihan ekonomi di AS itu jadi pertimbangan bagaimana The Fed akan sikapi dalam keputusan yang akan datang," katanya.
Perry melihat, The Fed baru akan memanfaatkan kesempatan pengetatan kebijakan moneter melalui peningkatan suku bunga acuan pada akhir tahun ini. Ini dikarenakan realisasi perbaikan ekonomi AS dan laju inflasi.
Saat ini, The Fed mempertahankan suku bunga acuan di level 0,25 - 0,5 persen. BI juga memperkirakan suku bunga acuan pada akhir 2016 sebesar masing-masing 25 basis poin dan tiga kali kenaikkan pada 2018.
"Kami melihat dari kemarin sidang Pasar Terbuka The Fed (FOMC) bukan hanya keputusan fed rate tidak berubah, tapi juga tones (intonasi) komunikasi kebijakan yang beberapa waktu lalu cenderung hawkish tapi dari kemarin bukan hawkish lagi bahkan dovish," ujar dia.
Kendati demikian, BI telah mengantisipasi potensi gejolak di pasar keuangan domestik atas kebijakan The Fed di sisa tahun.
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya