Pernahkah Anda berpikir tentang seberapa pentingkah makan bersama bagi kebahagiaan? Apakah berbagi makanan dengan orang lain berkontribusi pada kesejahteraan emosional dan sosial? Inilah salah satu topik yang diangkat dalam Laporan Kebahagiaan Dunia 2025, yang kami telaah bersama rekan penulis. Dalam laporan tersebut, kami menemukan bahwa ada hubungan yang signifikan antara frekuensi berbagi makanan dengan tingkat kebahagiaan dan kesejahteraan hidup seseorang.
Melalui data yang dirangkum oleh Albero Prati, seorang asisten Profesor bidang ekonomi di University College London, dari Jajak Pendapat Gallup 2022-2023 yang mencakup lebih dari 150.000 orang dari 142 negara dan wilayah, mencatat bahwa kebiasaan berbagi makanan bisa memberikan dampak positif pada kesejahteraan individu.
Menariknya, dia juga menemukan adanya perbedaan besar dalam seberapa sering orang-orang berbagi makanan, tergantung pada negara dan wilayah tempat mereka tinggal.
Sebagai contoh, di wilayah Amerika Latin, seperti di Paraguay, Ekuador, dan Kolombia, masyarakat melaporkan berbagi makanan lebih dari sepuluh kali dalam seminggu. Sebaliknya, di Asia Selatan dan Timur, terutama di negara-negara seperti India, Pakistan, Bangladesh, Jepang, dan Korea Selatan, kebiasaan berbagi makanan cenderung lebih rendah, dengan rata-rata kurang dari satu dari tiga kali makan bersama dalam seminggu.
"Dalam hal ini, berbagi makanan tampaknya memiliki dampak positif pada kesejahteraan masyarakat di hampir semua wilayah. Namun, dampaknya lebih kuat di beberapa kawasan dibandingkan yang lainnya," ujarnya.
Advertisement
Di Amerika Utara, Australia, dan Selandia Baru, misalnya, seseorang yang biasanya makan sendirian dan kemudian mulai berbagi makanannya setidaknya delapan kali dalam seminggu dapat mengalami peningkatan kebahagiaan yang signifikan. Bahkan, peningkatan tersebut setara dengan efek dari peningkatan pendapatan mereka.
Namun, di Amerika Latin, Karibia, dan Afrika Sub-Sahara, dampaknya jauh lebih kecil, sementara di Asia Tenggara hampir tidak ada perubahan yang tercatat. Meski demikian, hubungan positif antara berbagi makanan dan kebahagiaan tetap teramati di sebagian besar wilayah dunia, meski besarnya pengaruhnya dapat berbeda-beda.
Di balik fenomena ini, berbagi makanan bukan hanya soal tradisi atau kebiasaan sosial, tetapi juga bisa menjadi indikator penting dari keterhubungan sosial. Prati mengutarakan, frekuensi makan bersama dapat menjadi salah satu ukuran konkret yang mencerminkan seberapa dekat kita dengan orang-orang di sekitar kita.
"Ini menunjukkan bahwa semakin sering kita berbagi makanan, semakin besar kemungkinan kita merasa lebih terhubung dengan orang lain, yang tentunya berkontribusi pada peningkatan kualitas hidup," kata Prati.
Sementara itu, data dari Survei Penggunaan Waktu di Amerika Serikat menunjukkan bahwa tren makan sendirian semakin meningkat, terutama di kalangan dewasa muda. Sejak 2003, orang Amerika berusia 18 hingga 24 tahun memiliki kemungkinan 90% lebih besar untuk makan sendirian setiap hari.
Menariknya, mereka yang makan setidaknya satu kali bersama orang lain dalam sehari cenderung melaporkan tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi serta tingkat stres, rasa sakit, dan kesedihan yang lebih rendah pada hari tersebut.
Dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya modal sosial dan hubungan antarpribadi, kita dapat melihat bahwa makan bersama lebih dari sekadar kebiasaan sehari-hari. Ini adalah cara sederhana yang dapat membantu mengurangi isolasi sosial dan memberikan manfaat emosional yang besar bagi kesehatan mental.