Harga Minyak Dunia Turun Dipicu Kekhawatiran Meningkatnya Kasus Virus Corona

Rabu, 6 April 2022 10:00 Reporter : Idris Rusadi Putra
Harga Minyak Dunia Turun Dipicu Kekhawatiran Meningkatnya Kasus Virus Corona Ilustrasi Migas. shutterstock.com

Merdeka.com - Harga minyak dunia tercatat turun pada akhir perdagangan yang fluktuatif pada Selasa (Rabu pagi WIB). Harga minyak tertekan oleh kenaikan dolar AS dan meningkatnya kekhawatiran bahwa kasus virus corona baru dapat memperlambat permintaan.

Namun demikian, penurunan masih tertahan oleh kekhawatiran pasokan karena sanksi terhadap Rusia atas dugaan kejahatan perang.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Juni turun 89 sen atau 0,8 persen, menjadi menetap di USD 106,64 per barel. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Mei anjlok USD 1,32 atau 1,3 persen, menjadi ditutup di USD 101,96 per barel.

Di awal sesi, harga naik lebih dari USD 2 per barel setelah Menteri Perindustrian Jepang mengatakan Badan Energi Internasional (IEA) masih mendiskusikan pelepasan cadangan minyak terkoordinasi yang menurut banyak pedagang adalah kesepakatan yang sudah selesai. Setelah itu, harga diperdagangkan di kedua sisi tidak berubah hampir sepanjang hari.

Kekhawatiran permintaan meningkat setelah otoritas di importir minyak utama China memperpanjang penguncian di Shanghai untuk mencakup semua 26 juta orang di pusat keuangan itu.

"Pelemahan dolar awal hari ini secara bertahap memberi jalan kepada kekuatan dalam memberikan dorongan tambahan di balik ayunan harga minyak hari ini kembali ke sisi penurunan," kata Jim Ritterbusch, presiden Ritterbusch and Associates di Galena, Illinois.

Harga minyak bisa mendapatkan dukungan setelah penyelesaian (penutupan) jika perkiraan analis benar dan persediaan minyak mentah AS turun sekitar 2,1 juta barel pekan lalu.

American Petroleum Institute (API), sebuah kelompok industri, akan mengeluarkan laporan persediaannya pada pukul 20.30 GMT. Pada Rabu, Badan Informasi Energi AS (EIA) akan mengeluarkan laporan resmi pada pukul 10.30 pagi waktu setempat.

2 dari 2 halaman

Dolar Menguat

Dolar menguat untuk hari keempat berturut-turut ke level tertinggi sejak Mei 2020 terhadap sekeranjang mata uang lainnya. Dolar yang lebih kuat membuat minyak lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Amerika Serikat dan Uni Eropa (UE) mengusulkan sanksi baru terhadap Rusia atas pembunuhan warga sipil di Ukraina, termasuk larangan impor batu bara oleh Uni Eropa.

Menteri Luar Negeri Jerman Annalena Baerbock mengatakan larangan batu bara akan diikuti oleh minyak dan kemudian gas.

Moskow, yang menyebut tindakannya di Ukraina sebagai operasi militer khusus, mengatakan tuduhan Barat atas kejahatan perang di kota Bucha di Ukraina adalah pemalsuan mengerikan yang ditujukan untuk merendahkan tentara Rusia.

Untuk menenangkan harga minyak, negara-negara sekutu AS pekan lalu menyetujui pelepasan minyak terkoordinasi dari cadangan strategis untuk kedua kalinya dalam sebulan.

Direktur eksekutif energi berjangka Mizuho, Robert Yawger mengatakan rencana AS untuk melepaskan 180 juta barel minyak dari Cadangan Minyak Strategisnya (SPR) telah mempersempit perbedaan antara minyak mentah saat ini dan minyak berjangka yang akan datang. [idr]

Baca juga:
Harga Minyak Dunia Kembali Naik Tajam Dipicu Potensi Sanksi Baru untuk Rusia
Rupiah Menguat Dipengaruhi Turunnya Harga Minyak Dunia
Kenaikan Harga Minyak Goreng Dorong Inflasi di Purwokerto dan Cilacap, Ini Kata BI
Gencatan Senjata Uni Emirat Arab dan Houthi Bawa Harga Minyak Turun
Harga Minyak Dunia Turun Dipicu Pertimbangan AS Lepas Cadangan Terbesar 50 Tahun
Dirut Pertamina Curhat Beban Negara Gara-Gara Subsidi Solar

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini