Harga Gabah dan Beras Rata-Rata Mengalami Penurunan di Desember 2019
Merdeka.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rata-rata harga gabah pada Desember 2019 di tingkat petani untuk kualitas Gabah Kering Panen (GKP) dan kualitas rendah mengalami penurunan dibanding periode yang sama pada tahun lalu. Masing-masing mengalami penurunan sebesar 0,42 persen, dan 4,22 persen. Sedangkan Gabah Kering Giling (GKG) mengalami kenaikan sebesar 1,07 persen.
Kepala BPS, Suhariyanto, menyebutkan dari 1.273 transaksi penjualan gabah di 23 provinsi selama Desember 2019, tercatat transaksi GKP 70,07 persen, GKG 20,19 persen, dan gabah kualitas rendah 9,74 persen.
"Di tingkat penggilingan, rata-rata harga pada Desember 2019 dibandingkan dengan Desember 2018 untuk kualitas GKP dan kualitas rendah masing-masing mengalami penurunan sebesar 0,31 persen dan 4,57 persen, sedangkan GKG mengalami kenaikan sebesar 1,17 persen," kata dia, di Kantornya, Jakarta, Kamis (2/1).
Pada Desember 2019, rata-rata harga beras kualitas premium di penggilingan sebesar Rp9.838,00 per kg, naik sebesar 0,99 persen dibandingkan bulan sebelumnya, kualitas medium sebesar Rp9.566,00 per kg atau naik sebesar 0,46 persen, dan rata-rata harga beras kualitas rendah di penggilingan sebesar Rp9.253,00 per kg atau naik sebesar 0,08 persen.
"Selama Desember 2019, survei harga produsen beras di penggilingan dilakukan terhadap 1.071 observasi beras di penggilingan pada 877 perusahaan penggilingan di 31 provinsi," ujarnya.
Selain itu, rata-rata harga beras medium juga mengalami penurunan dibanding periode yang sama pada tahun lalu. Harga beras kualitas medium dan rendah masing-masing turun sebesar 2,38 persen dan 1,91 persen. Sedangkan, harga beras di penggilingan pada Desember 2019 untuk kualitas premium naik 0,21 persen.
Selama Desember 2018-Desember 2019, rata-rata harga tertinggi GKP di tingkat petani Rp5.353,00 per kg pada Januari 2019, sedangkan rata-rata terendah Rp4.356,00 terjadi pada Mei 2019.
Rata-rata tertinggi untuk beras Medium selama Desember 2018-Desember 2019 Rp9.903,00 terjadi pada Januari 2019, sedangkan rata-rata terendah Rp9.143,00 terjadi pada Mei 2019.
Nilai Tukar Petani Desember 2019 Naik 0,35 Persen
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comKepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto menyebutkan Nilai Tukar Petani (NTP) NTP nasional Desember 2019 sebesar 104,46. Angka tersebut naik 0,35 persen dibanding NTP bulan sebelumnya.
Dia mengungkapkan kenaikan NTP dikarenakan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik sebesar 0,59 persen, lebih besar dari kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (lb) sebesar 0,24 persen.
"Pada Desember 2019, NTP Provinsi Riau mengalami kenaikan tertinggi (2,65 persen) dibandingkan kenaikan NTP provinsi lainnya," kata dia.
Sebaliknya, NTP Provinsi Papua Barat mengalami penurunan terbesar (1,08 persen) dibandingkan penurunan NTP provinsi Iainnya.
Nilai Tukar Petani (NTP) adalah perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (lb).
NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di perdesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (terms of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi.
BPS juga mencatat pada Desember 2019 terjadi inflasi perdesaan di Indonesia sebesar 0,28 persen disebabkan oleh haiknya indeks di seluruh kelompok penyusun Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT), terutama Kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau.
Sementara itu, Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) nasional Desember 2019 sebesar 114,04 atau naik 0,43 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya.
(mdk/bim)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya