Gaji engineer minyak di Timur Tengah lebih besar dari Indonesia
Merdeka.com - Salah satu masalah dalam pengembangan migas di tanah air adalah kekurangan sumber daya manusia (SDM). Disamping kurang diminati, banyak tenaga kerja perminyakan Indonesia yang memilih 'kabur' dan bekerja di luar negeri. Alasannya jelas, gaji sebagai engineer di luar negeri jauh lebih tinggi dibanding di dalam negeri.
Deputi Pengendalian Bisnis SKK Migas, Lambok Hamonangan Hutauruk mengakui gaji engineer perminyakan di Indonesia kalah jauh dibandingkan luar negeri seperti negara di Timur Tengah. Di luar negeri, engineer digaji USD 6.000 atau sekitar Rp 65 juta per bulan atau sedangkan di Indonesia cuma USD 1.000 atau sekitar Rp 10 juta per bulan.
"Ini aware bahwa sebagian bisa lolos fasilitas kerja, remunerasi jauh lebih baik di Indonesia. Gaji lebih kecil di indonesia. Umur 27 mereka bisa digaji USD 5.000-6.000 di sana. Di Indonesia USD 1.000 juta sudah bagus," kata Lambok di Kantornya, Jakarta, Senin (2/9).
Dia mengakui banyak engineer muda Indonesia yang ditarik keluar negeri dan kondisi ini tidak terelakkan. Apalagi sekarang sudah ada kumpulan pekerja Indonesia di luar negeri atau Diaspora yang memudahkan semua ini.
"Kesempatan ditarik keluar mereka lari juga. Ga ada batas negara, ada Diaspora. Saya juga mengertilah," katanya.
Lambok mengaku tidak punya hak untuk melarang engineer Indonesia untuk bekerja di luar negeri. Bahkan dia mencontohkan ada seorang profesor di Jepang yang telah mendapatkan gelar Phd 3 kali yang ternyata aslinya adalah orang Surabaya.
"Free-free saja, semakin pintar seseorang semakin independence. Mungkin mereka juga tidak pas dengan suasana dan peralatan belum cocok di Indonesia. Saya kira wajarlah. Saya juga sempat kerja dua tahun di luar saya mengertilah. Sekarang saya di sini (SKK Migas) karena dipanggil," tutupnya. (mdk/noe)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya