Perusahaan-perusahaan di Indonesia saat ini tengah gencar melakukan transformasi signifikan menuju otomatisasi dalam berbagai aspek operasional mereka. Pergeseran ini menjadi krusial untuk mencapai pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan di tengah fluktuasi pasar yang dinamis, seperti gejolak mata uang dan suku bunga.
Menurut Anne Suhandojo, Head of Global Payments Solutions HSBC Indonesia, transformasi ini bergerak dari sistem manual menuju penggunaan internet banking, kemudian berkembang ke konektivitas yang lebih canggih seperti host-to-host dan Antarmuka Pemrograman Aplikasi (API) untuk transaksi maupun data. Manajer keuangan di Asia Pasifik, termasuk Indonesia, sangat membutuhkan real-time treasury untuk menghadapi kompleksitas pasar.
Digitalisasi sistem pembayaran menjadi faktor kunci dalam mewujudkan real-time treasury. Hal ini memungkinkan manajer keuangan memiliki akses dan informasi menyeluruh secara real-time atas transaksi pembayaran, kebutuhan modal kerja di seluruh entitas anak usaha, posisi arus kas, serta eksposur valuta asing, yang semuanya esensial untuk pengambilan keputusan yang cepat dan tepat.
Advertisement
Advertisement
Transformasi Digital dan Kebutuhan Real-Time Treasury
Langkah transformasi digital perusahaan di Indonesia tidak hanya berhenti pada penggunaan internet banking. Banyak perusahaan kini beralih ke solusi yang lebih terintegrasi, seperti konektivitas langsung dengan bank melalui sistem host-to-host atau API. Integrasi ini memungkinkan pertukaran data dan transaksi yang lebih cepat dan efisien, mengurangi ketergantungan pada proses manual yang memakan waktu.
Kebutuhan akan real-time treasury menjadi sangat mendesak bagi manajer keuangan di kawasan Asia Pasifik. Dengan kondisi pasar yang penuh gejolak, kemampuan untuk melihat dan mengelola posisi keuangan secara instan adalah sebuah keharusan. Ini mencakup pemantauan arus kas, pengelolaan modal kerja, dan mitigasi risiko valuta asing secara efektif.
HSBC sendiri telah aktif membantu nasabah di Indonesia dalam mendorong digitalisasi sistem pembayaran mereka. Solusi yang ditawarkan mencakup pembayaran domestik dan cross border payments, dengan kemampuan otomatisasi konversi mata uang ke 130 jenis valuta asing untuk pembayaran ke luar negeri. Ini menunjukkan komitmen HSBC dalam mendukung otomatisasi keuangan perusahaan.
Advertisement
Selain itu, infrastruktur pendukung dari Bank Indonesia seperti BI-FAST dan QRIS turut mempercepat terwujudnya sistem pembayaran real-time. "Jadi dengan BI-FAST, dengan ketersediaan QRIS, semuanya kan menjadi real-time. Jadi, biar perusahaan melihat bahwa kami melakukan sesuatu tindakan yang di real-time," ujar Anne Suhandojo, menyoroti pentingnya ekosistem pembayaran yang terintegrasi.
Advertisement
Studi Kasus: Efisiensi Pembayaran Lintas Batas
Salah satu contoh nyata keberhasilan otomatisasi keuangan perusahaan adalah pengalaman sebuah perusahaan pelayaran di Indonesia. Perusahaan ini, yang memiliki 12 anak perusahaan di berbagai negara di Asia, berhasil mencapai efisiensi proses bisnis yang signifikan melalui integrasi solusi pembayaran dan cash management dari HSBC.
Sebelumnya, perusahaan tersebut menghadapi tantangan besar karena menggunakan bank dan kanal pembayaran yang berbeda di setiap negara. Kondisi ini memaksa mereka untuk melakukan proses manual yang rumit untuk mengintegrasikan data keuangan. Akibatnya, visibilitas terhadap posisi kas sangat terbatas, dan informasi yang tersedia tidak real-time serta tidak terkonsolidasi.
Dengan adopsi solusi terintegrasi dari HSBC, perusahaan pelayaran ini kini dapat mengelola pembayaran lintas batas dan arus kas dari seluruh anak perusahaannya secara lebih efisien. Integrasi ini tidak hanya mengurangi beban kerja manual tetapi juga memberikan visibilitas penuh dan real-time terhadap kondisi keuangan mereka, memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih cepat dan akurat.
Advertisement
Advertisement
Peran AI dalam Otomatisasi Keuangan dan Tantangan Keamanan
Penting untuk dicatat bahwa real-time treasury, meskipun sangat bergantung pada otomatisasi, bukanlah artificial intelligence (AI) itu sendiri. "Real-time treasury bukanlah artificial intelligence (AI), tetapi otomasi dalam hal pembayaran hingga manajemen likuiditas," tegas Anne Suhandojo. Namun, AI dapat berperan besar dalam mendukung proses pengumpulan data melalui real-time treasury dengan menambahkan fungsi data analytics yang canggih.
Survei HSBC menunjukkan bahwa bendahara perusahaan (treasurer) di Indonesia melihat manfaat signifikan dari otomatisasi dan AI dalam meningkatkan efisiensi serta pengambilan keputusan. AI dianggap mampu memberikan prediksi yang lebih akurat terkait proyeksi arus kas dan transaksi lindung nilai (hedging), terutama dalam menghadapi volatilitas mata uang dan suku bunga yang tidak terduga.
Meskipun potensi AI sangat besar, sebagian besar manajer keuangan di Indonesia masih memiliki kekhawatiran terhadap risiko penerapannya, khususnya dalam hal keamanan siber. Sebanyak 48 persen bendahara di Indonesia mengidentifikasi keamanan siber sebagai hambatan utama, angka ini tertinggi dibandingkan tujuh negara Asia Pasifik lainnya yang terlibat dalam survei. Perlindungan dan keamanan data menjadi perhatian penting mengingat insiden peretasan yang pernah terjadi.
Advertisement
Menanggapi kekhawatiran ini, HSBC mengambil pendekatan yang hati-hati terhadap penerapan AI di Indonesia. "Kalau untuk HSBC sendiri, AI ini sangat diregulasi oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan). Jadi, kami mengambil prinsip kehati-hatian, kami belum menerapkan AI untuk customer," jelas Anne. HSBC lebih fokus pada mendukung perusahaan-perusahaan untuk menjadi lebih digital, otomatis, dan terintegrasi dari sisi data dan pembayaran, sementara pengembangan AI masih dalam tahap pengkajian mendalam di Indonesia, meskipun sudah digunakan di luar negeri untuk layanan pelanggan atau analisis data arus kas.
Sumber: AntaraNews