Ekonomi RI Stabil, Bank Indonesia Diprediksi Tahan Suku Bunga Acuan

Kamis, 25 April 2019 10:10 Reporter : Wilfridus Setu Embu
Ekonomi RI Stabil, Bank Indonesia Diprediksi Tahan Suku Bunga Acuan Gedung Bank Indonesia. Merdeka.com / Dwi Narwoko

Merdeka.com - Lembaga Penyelidikan Ekonomi Masyarakat (LPEM FEBUI) memprediksi Bank Indonesia (BI) masih harus menahan suku bunga acuan di kisaran 6 persen dalam RDG kali ini. Hal tersebut mempertimbangkan kondisi makro ekonomi Indonesia yang sedang dalam keadaan baik.

Kepala Kajian Makro LPEM FEBUI, Febrio mengatakan indikator pertama yang diperhatikan adalah inflasi. Menurut dia, inflasi kembali menurun di bulan Maret, lebih rendah dari ekspektasi hingga berada di bawah koridor menjadi 2,48 persen (yoy) dibanding 2,57 persen (yoy) di bulan Februari 2019. Inflasi telah mencapai tingkat terendah dalam satu dekade terakhir seiring dengan turunnya harga pangan dan komoditas.

"Pola musiman akibat periode panen mendorong inflasi bulanan yang rendah di tingkat 0,11 persen (mtm). Harga bahan makanan mentah mengalami deflasi didorong oleh lonjakan pasokan, namun harga dari sektor makanan, minuman, dan rokok mengalami peningkatan sehingga berkontribusi pada tercatatnya inflasi di bulan Maret," kata dia, kepada Merdeka.com, Kamis (25/4).

Inflasi inti bulanan tercatat sebesar 0,16 persen (mtm), lebih rendah dibandingkan inflasi inti bulanan Februari sebesar 0,26 persen (mtm). Di sisi lain, inflasi inti tahunan relatif stabil di sekitar 3 persen, sedikit turun dari 3,06 persen (yoy) pada bulan lalu menjadi 3,03 persen (yoy).

Indikator berikut adalah kinerja rupiah. Rupiah masih ditahan oleh Bank Indonesia di sekitar Rp 14.000-14.200. Perbaikan kurs Rupiah merupakan hasil dari meningkatnya kepercayaan investor setelah sektor manufaktur Tiongkok tumbuh melebihi ekspektasi.

Meredanya potensi pembatasan perdagangan AS-Tiongkok menjadi sentimen utama dalam aliran modal masuk portofolio ke negara-negara berkembang. Seiring dengan menurunnya tekanan global, minimnya sentimen negatif menjelang pemilihan umum telah mendorong Rupiah ke tingkat yang lebih kuat.

"Selain itu, hasil sementara saat ini dari presiden pemenang di Indonesia juga mendorong ekspektasi investor dalam stabilitas politik, sehingga menghasilkan apresiasi Rupiah lebih lanjut," jelas dia.

Pihaknya pun melihat peningkatan akumulasi aliran modal masuk yang tercatat sebesar Rp 91 triliun hingga pertengahan April. Hal ini mencerminkan kepercayaan pasar terhadap kinerja ekonomi domestik Indonesia. Arus modal masuk yang persisten sejak awal tahun tergambarkan oleh penurunan imbal hasil obligasi pemerintah. Rata-rata imbal hasil obligasi pemerintah 10-tahun dan 1-tahun pada Maret masing-masing mencapai 7,9 persen dan 6,5 persen.

"Di sisi lain, neraca perdagangan sejauh ini lebih baik dari ekspektasi. Setelah defisit yang cukup besar sepanjang 2018, neraca perdagangan Indonesia mendapat ruang bernapas baru," imbuhnya.

Data terbaru menunjukkan sinyal pemulihan dengan surplus perdagangan yang tidak terduga dalam dua bulan berturut-turut, masing-masing sebesar USD 0,3 miliar dan USD 0,5 miliar. Peningkatan ini telah membuat defisit perdagangan secara keseluruhan di Triwulan-I turun menjadi USD 0,19 miliar dari defisit USD 4,8 miliar di kuartal sebelumnya.

Dia menjelaskan, surplus neraca perdagangan saat ini terutama disebabkan oleh pembalikan tren neraca nonmigas, dimana impor nonmigas turun lebih cepat daripada penurunan ekspor nonmigas. "Impor keseluruhan barang modal seperti mesin dan peralatan listrik (HS 85) mencatat penurunan signifikan pada 7,8 persen (yoy), komponen impor ini tumbuh sangat tinggi tahun lalu."

Di sisi lain, neraca minyak dan gas mencatat perbaikan dengan defisit sebesar USD 1,3 miliar pada Triwulan-I 2019. Angka ini berkurang signifikan dibanding defisit sebesar USD 2,7 miliar di kuartal yang sama tahun lalu. Impor minyak mentah yang lebih rendah, sementara produksi minyak mentah domestik masih turun, mencerminkan persyaratan wajib B20 mulai menunjukkan efektifitasnya. Defisit perdagangan yang lebih rendah dari yang diperkirakan diperkirakan akan menurunkan defisit neraca transaksi berjalan untuk Triwulan-I 2019.

"Kami memproyeksikan defisit pada Triwulan-I 2019 di 2,24 persen terhadap PDB, lebih rendah dibanding 3,57 persen di Triwulan-IV 2018. Namun, struktur ekspor Indonesia yang masih sangat bergantung pada bahan baku impor masih akan menjadi sumber gangguan dalam proyeksi kinerja neraca transaksi berjalan sepanjang 2019. Namun demikian, kami memandang bahwa defisit neraca transaksi berjalan berpeluang untuk mencapai perbaikan ke sekitar 2,5 persen tahun ini," ungkapnya.

Pihaknya berpandangan, sejauh ini, Bank Indonesia masih akan terus menjaga daya tarik aset domestik. Rupiah relatif lebih stabil dibandingkan dengan mata uang negara berkembang lainnya dalam satu tahun terakhir. Rupiah yang menguat, didukung oleh aliran modal masuk, dan inflasi yang cenderung semakin rendah adalah alasan yang cukup bagi Bank Indonesia untuk mulai menyiapkan siklus pelonggaran moneter.

"Akumulasi cadangan devisa yang diperkirakan akan mencapai USD 130 miliar dalam dua sampai tiga bulan ke depan akan menjadi barometer untuk sinyal pelonggaran ini."

Untuk saat ini, dalam rangka memperluas pinjaman kredit dan mempertambahkan pertumbuhan nasional, BI bisa melonggarkan kebijakan makroprudensial, salah satunya dengan menurunkan tingkat Giro Wajib Minimum (GWM). "Stabilitas eksternal akan tetap relatif terjaga namun perbankan mulai bisa diberi ruang bernafas mengingat likuiditas memang masih cukup ketat," tandasnya. [azz]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini