Dipicu Harga Cabai dan Bawang, Inflasi Awal Pekan Februari 0,23 Persen

Jumat, 7 Februari 2020 18:43 Reporter : Anisyah Al Faqir
Dipicu Harga Cabai dan Bawang, Inflasi Awal Pekan Februari 0,23 Persen Pasar tradisional. ©Liputan6.com/Bawono Yadika

Merdeka.com - Bank Indonesia mencatat inflasi di pekan pertama bulan Februari sebesar 0,23 persen jika dibandingkan periode sama bulan lalu atau secara month to month. Inflasi ini tercatat 2,94 persen secara tahunan dan angka ini meningkat jika dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 2,68 persen.

"Meningkat jika dibandingkan dengan angka (inflasi) Januari 2,68 persen," kata Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo di Komplek Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat (7/1).

Beberapa indikator penyumbang inflasi masih terjaga, terutama di sektor bahan pangan. Komoditas yang masih menyumbang inflasi di antaranya cabai, bawang, dan beberapa indikator terkait rokok dan minyak goreng.

"Kami masih cukup yakin inflasi masih kita jaga range kita yang ada 3 persen plus minus satu persen," sambung Dodi.

1 dari 1 halaman

Pertumbuhan Ekonomi Stabil

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi 2019 sebesar 5,02 persen. Melihat ini Dodi menyebut terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi jika dibandingkan dengan tahun 2018 sebesar 5,17 persen.

"Artinya ada beberapa faktor yang memengaruhi perlambatan," kata Dodi.

Meski begitu faktor yang mendorong pertumbuhan ekonomi masih disokong oleh barang konsumsi rumah tangga. Pertumbuhannya relatif berkisar di angka 5,05 persen. Sedangkan tahun lalu pada 2018 di angka 5,05 persen.

Artinya, salah satu faktor utama ekonomi Indonesia tetap tumbuh yaitu daya beli masyarakat yang masih terjaga. Satu sisi ada keyakinan konsumen ini menjaga konsumsi.

Sementara itu investasi bangunan mengalami penurunan. Tahun ini tumbuhnya memang relatif tidak begitu berbeda. Saat ini pertumbuhan di tahun 2019 sebesar 9,1 persen. Sedangkan di tahun 2018 angkanya mencapai 10,6 persen.

"Karena ini sangat terkait dengan proyek strategis pemerintah," kata Dodi.

"Jadi, domestik demand menjadi faktor pertumbuhan ekonomi di 2019 yang lalu," sambungnya.

Untuk itu Bank Indonesia dan pemerintah terus berkoordinasi dan bersinergi mendorong sektor riil. Dengan begitu investasi akan tumbuh. Diperkirakan prospek global pada semester kedua akan lebih baik dan mendorong ekspor Indonesia.

"Dengan demikian tentunya kita masih cukup optimis untuk ekonomi 2020 di kisaran 5,1-5,5 persen," kata Dodi. [idr]

Baca juga:
Sepanjang Januari, BPS Catat Penurunan Harga Tiket Pesawat Terjadi di 58 Kota
Sri Mulyani: Dampak Kenaikan Harga Rokok Terhadap Inflasi Hanya Musiman
Nilai Tukar Petani Naik 0,78 Persen di Januari 2020
Kunjungan Wisatawan Asing Turun 2,03 Persen di Desember 2019
Rokok Hingga Cabai Sumbang Inflasi di Januari 2020
BPS: Inflasi Januari 2020 Capai 0,39 Persen

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini