Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Dikritik Rizal Ramli soal kerugian, ini tanggapan manajemen Garuda Indonesia

Dikritik Rizal Ramli soal kerugian, ini tanggapan manajemen Garuda Indonesia Garuda Indonesia. ©2014 merdeka.com/arie basuki

Merdeka.com - Manajemen PT Garuda Indonesia (Persero) angkat suara menjawab pernyataan dari ekonom Rizal Ramli mengenai permasalahan yang menyebabkan perusahaan merugi.

VP Corporate Secretary Garuda Indonesia, Hengki Heriandono mengapresiasi dukungan dan komitmen peningkatan kinerja operasional yang disampaikan oleh Bapak Rizal Ramli.

"Tentunya melalui dukungan komitmen tersebut kami akan terus berupaya meningkatan laju kinerja operasional yang hingga Q1-2018 ini terus menunjukan pertumbuhan positif. Garuda Indonesia juga turut memproyeksikan pada akhir tahun ini perusahaan dapat membukukan laba sebesar 10-15 juta dollar," ungkapnya dalam keterangan tertulis, Senin (25/6).

Terkait kinerja keuangan, dia menjelaskan, sepanjang Q-1 2018, Garuda Indonesia berhasil menekan kerugian maskapai hingga sebesar 36,5 persen menjadi USD 64,3 juta atau setara Rp 868 miliar (Kurs Rp 13.500), dibandingkan periode sama tahun 2017 sebesar USD 101,2 juta atau sekitar Rp 1,36 triliun.

"Perusahaan juga berhasil mencatatkan kenaikan pendapatan operasional sebesar 7,9 persen menjadi USD 983 juta atau setara Rp 13,27 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar USD 910,7 juta," katanya.

Sepanjang tahun 2017, Garuda Indonesia juga berhasil menekan tren kerugian dari 1Q-2017 sebesar USD 99,1 juta menjadi USD 38,9 pada 2Q-2017. "Garuda Indonesia juga telah berhasil membukukan laba operasi sebesar USD 61,9 juta pada periode 3Q-2017 (diluar tax amnesty dan extraordinary items sebesar USD 145 juta). Jumlah itu naik 216.1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya."

Terkait jajaran direksi yang dinilai terlalu banyak karena berjumlah 8 direksi, dia mengatakan hal tersebut sesuai dengan kebutuhan perusahaan. "Struktur manajemen tersebut menyelaraskan dengan tren dan volume bisnis perusahaan yang terus berkembang," imbuh Hengky.

Garuda Indonesia, lanjut dia, juga terus melaksanakan upaya renegosiasi kontrak pesawat termasuk komitmen penundaan kedatangan pesawat baru hingga tahun 2019-2020 serta memaksimalkan utilitas pesawat yang ada saat ini. Hal ini Sejalan dengan komitmen strategi bisnis jangka panjang Sky Beyond 3.5.

"Adapun utilitas pesawat pada tahun 2018 ini ditargetkan menjadi 10 jam 24 menit meningkat dibandingkan tahun 2017 sebesar 9 jam 36 menit khususnya dengan memaksimal rute padat penumpang dengan yield tinggi."

Garuda Indonesia di tahun 2017 juga telah melaksanakan renegosiasi kontrak pesawat bersama pihak manufaktur atau lessor sehingga dapat menurunkan harga sewa pesawat hingga 25 persen. "Garuda Indonesia terus memaksimalkan potensi armada yang ada saat ini dengan restrukturisasi jaringan penerbangan khususnya dengan memaksimalkan pasar penerbangan dengan trafik tinggi," ujarnya.

"Perlu kiranya kami sampaikan juga bahwa Garuda Indonesia juga tidak pernah mengagendakan pengadaan pesawat Airbus A380," tambahnya.

Saat ini Garuda Indonesia hanya mengoperasikan jenis armada Boeing 777-300 ER, Boeing 737-800 NG, Airbus A330-300/200, CRJ Bombardier 100, ATR 72-600 dengan total armada secara keseluruhan sebesar 202 armada pesawat (termasuk armada yang dioperasikan anak perusahaan Citilink).

Sementara itu, dalam mengimplementasikan kebijakan training crew penerbangan, Garuda Indonesia menjalankan pola training yang mengacu pada kebijakan dan regulasi yang berlaku baik yang dikeluarkan oleh pemerintah maupun lembaga berwenang lainnya yang mengatur terkait standarisasi training crew penerbang. Kebijakan tersebut juga melalui proses audit yang dilakukan oleh pihak pemangku kepentingan terkait.

"Terkait aspek pengadaan operasional perusahaan, Garuda Indonesia selalu menjalankan prinsip-prinsip good corporate governance dengan transparansi mekanisme pengadaan yang mengedepankan konsep e-procurement sehingga aspek keterbukaan dan implementasi GCG tetap terjaga. Selain tentunya Garuda Indonesia juga akan mendapatkan harga yang efisien dan kompetitif."

Mengacu pada perkembangan pasar LCC yang semakin berkembang, Garuda Indonesia turut memaksimalkan potensi tersebut melalui anak usaha Citilink yang bergerak di segmen penerbangan murah.

"Perlu kiranya kami sampaikan bahwa melalui upaya tersebut, Garuda Indonesia melakukan penyelarasan strategi pengembangan khususnya antara pasar full service dan LCC sehingga market share Garuda Indonesia Group dapat terus meningkat," tandasnya. (mdk/idr)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP