Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah memulai sebuah penelitian penting untuk mengidentifikasi seberapa besar kontribusi sampah dari sektor pariwisata di Indonesia. Inisiatif ini diambil mengingat minimnya data spesifik mengenai dampak lingkungan dari aktivitas pariwisata. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai volume dan jenis sampah yang dihasilkan.
Penelitian yang dipimpin oleh Profesor Reza Cordova, seorang peneliti BRIN, ini berfokus pada empat destinasi pariwisata utama di Indonesia. Bali, Yogyakarta, Lombok, dan Labuan Bajo dipilih karena statusnya sebagai magnet wisatawan dan kontributor devisa negara yang signifikan. Fokus utama adalah memahami beban sampah serta praktik pengelolaannya di wilayah-wilayah tersebut.
Dengan rampungnya kajian ini, BRIN menargetkan untuk menyusun sebuah ringkasan kebijakan yang dapat diimplementasikan secara nasional. Kebijakan ini bertujuan untuk mengatasi persoalan sampah pariwisata yang selama ini kerap diduga sebagai penyumbang besar masalah lingkungan, khususnya sampah plastik.
Advertisement
Advertisement
Fokus Penelitian BRIN di Destinasi Unggulan
Penelitian BRIN ini secara spesifik menyasar beberapa area pariwisata ikonik di Indonesia, yaitu Bali, Yogyakarta, Lombok, dan Labuan Bajo. Pemilihan lokasi ini bukan tanpa alasan, mengingat Bali khususnya, dikenal sebagai penyumbang devisa tinggi dari sektor pariwisata. BRIN berupaya mengisi kekosongan data terkait volume sampah yang dihasilkan dari sektor penting ini.
Pada tahap awal, tim peneliti BRIN akan mengumpulkan data lapangan dari sampel-sampel yang diambil di akomodasi dan berbagai objek wisata di keempat daerah sasaran. Pendekatan ini memungkinkan BRIN untuk mendapatkan data yang akurat mengenai jenis dan jumlah sampah yang dihasilkan oleh aktivitas pariwisata. Data ini krusial untuk memahami dinamika pengelolaan sampah di tingkat lokal.
Profesor Reza Cordova mengamati secara kasat mata bahwa masih banyak pelaku usaha, terutama akomodasi non-bintang, yang belum mengelola sampahnya dengan baik. Bahkan, keberadaan akomodasi ilegal yang mungkin tidak mengelola sampah sama sekali menjadi perhatian serius, karena berpotensi membebani pemerintah daerah. Data pasti mengenai hal ini sedang dikejar untuk validasi.
Advertisement
Dari data yang terkumpul, BRIN berharap dapat mengidentifikasi solusi penanganan sampah pariwisata yang paling efektif. Ini termasuk menentukan jenis sampah yang dapat dikelola langsung oleh pelaku usaha dan pendekatan terbaik untuk implementasinya. Tujuannya adalah menciptakan sistem pengelolaan yang lebih terintegrasi dan bertanggung jawab.
Advertisement
Tantangan dan Rekomendasi Pengelolaan Sampah Pariwisata
Salah satu tantangan utama yang diidentifikasi adalah kecenderungan wilayah wisata untuk menyerahkan pengelolaan sampah sepenuhnya kepada pemerintah daerah atau pihak ketiga. Padahal, menurut Profesor Reza, pengelolaan sampah yang ideal seharusnya dimulai dengan pemilahan dari sumbernya. Praktik ini belum optimal di banyak lokasi wisata.
Jika pemilahan sampah dapat dilakukan sejak dari sumbernya, maka volume sampah yang masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) akan jauh lebih kecil. BRIN akan mencoba mengidentifikasi titik krusial atau celah dalam sistem pengelolaan saat ini yang dapat diperbaiki. Saran-saran konstruktif akan diberikan untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan.
BRIN menargetkan kajian ini dapat rampung secepatnya, dengan harapan puluhan titik di empat kawasan penelitian dapat diteliti hingga bulan September. Kecepatan penyelesaian penelitian ini penting untuk segera menghasilkan rekomendasi kebijakan yang relevan dan tepat waktu.
Advertisement
Meskipun penelitian masih berjalan, BRIN tetap mendorong pelaku usaha pariwisata untuk mulai mengelola sampahnya sejak dini. Fokus utama adalah pada jenis sampah sisa makanan dan sampah plastik, yang merupakan kontributor signifikan terhadap masalah lingkungan di destinasi wisata.
Sumber: AntaraNews