BKPM Kewalahan Hitung Derasnya Investasi Asing Untuk Unicorn

Selasa, 26 Februari 2019 19:30 Reporter : Yayu Agustini Rahayu
BKPM Kewalahan Hitung Derasnya Investasi Asing Untuk Unicorn Bos BKPM, Thomas Lembong. Anggun ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Thomas Lembong mengatakan partisipasi asing dalam perusahaan rintisan (startup) dengan valuasi di atas USD 1 miliar atau unicorn cukup besar. Namun dia menegaskan partisipasi modal domestik juga tak kalah besarnya.

"Memang partisipasi sektor asing itu besar. Tapi saya bisa membenarkan partisipasi modal domestik juga sangat besar. Jadi perkiraan saya, ya imbang," kata Thomas dalam sebuah acara diskusi di Gedung Kemenkominfo, Jakarta, Selasa (26/2).

Dia mengungkapkan besarnya arus modal asing ke unicorn sudah terjadi sejak tiga tahun yang lalu. Akan tetapi hingga saat ini dia menyatakan BKPM belum memperoleh angka pasti besaran investasi asing di unicorn.

"Tiba-tiba muncul banyak soal fund rising ini itu. Kalau dijumlah gede juga. Tapi kok di BKPM tidak ada datanya. Karena munculnya anak muda semua yang kebanyakan pada tidak sadar ada prosedur pendaftaran di BKPM," ujarnya.

Selain itu, pertumbuhan unicorn dinilai sangat pesat sekali sehingga sulit untuk melacak total investasinya.

"Pertumbuhan baik arus modal maupun unicorn itu tumbuh cepat. Jujur, kewalahan kita tracking ya. Tiga tahun ini saya kumpulkan data itu. Terus terang masih berlanjut. Karena luas dan dinamis. Kami kewalahan memang. Struktur financial juga ruwet. Misalnya, memisahkan kendali usaha dari modal yang disetor memakai struktur keuangan yang kompleks," ujarnya.

Namun jika dilihat dari total Foreign direct investment ( FDI) atau investasi asing diperkirakan investasi untuk unicorn adalah 15 hingga 20 persen.

"Pada dasarnya yang namanya FDI itu kisarannya 9-12 miliar dolar per tahun. Perkiraan kami policy yang masuk ke e-commerce 15-20 persen. Ya 2-2,5 miliar dolar yang masuk per tahun," tutupnya.

Oleh sebab itu menurutnya masifnya aliran modal asing tidak akan membuat dana unicorn kabur ke luar negeri. Sebab menurutnya para investor asing tidak akan mengambil alih kekuasaan pada perusahaan yang dia tanami modal.

Seperti diketahui Indonesia saat ini memiliki 4 unicorn yaitu Gojek, Traveloka, Bukalapak dan Tokopedia. "Di dalam investasi ventura ada perbedaan besar soal jumlah modal dan kendali atas usaha. Justru investor seperti saya dulu, tidak mau pegang kendali atas yang kita modali. kita mau jadi invesor pasif," tutupnya. [azz]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini