Alumni ITB: Proyek kilang apung LNG Masela berisiko tinggi

Selasa, 22 Desember 2015 13:21 Reporter : Pramirvan Datu Aprillatu
Alumni ITB: Proyek kilang apung LNG Masela berisiko tinggi Ilustrasi Migas. shutterstock.com

Merdeka.com - Praktisi migas tergabung dalam Forum Tujuh Tiga Institut Teknologi Bandung (Fortuga-ITB) Yoga Suprapto menilai pembuatan kilang terapung untuk pengembangan proyek Lapangan Gas Abadi-Masela berisiko tinggi. Makanya, teknologi itu masih sedikit yang menggunakan.

"Banking, asuransi nggak mau biayai, belum proven teknologinya. Jadi bisa bayangkan Timor Leste saja menolak saat bekerja sama dengan Australia untuk lapangan gas Sunrise," kata Yoga saat ditemui di Kementerian Koordinator Kemaritiman, Jakarta, Selasa (22/12).

Hanya Shell yang saat ini tengah membangun Floating LNG Prelude di Australia. Meski kapasitasnya separuh dari rencana LNG terapung Masela, namun panjangnya mencapai hampir 500 meter, lebar 75 meter dan berat terisi 600 ribu ton.

"Penggunaan teknologi Floating LNG sampai saat ini dibiayai secara off balance sheet perusahaan besar seperti Shell," ujar Yoga.

Dia menambahkan, di lokasi yang memiliki cadangan gas relatif kecil atau tersebar di banyak yang tempat, Proyek Floating LNG bakal menghadapi dua tantangan besar. Yakni, kestabilan operasi karena goncangan kapal dan keselamatan disebabkan peralatan yang berdekatan satu sama lain.

"Sulit membayangkan Indonesia hanya menjadi kelinci percobaan," ujar Yoga.

Data SKK Migas-Inpex/Shell menyebut pembiayaan Floating LNG memakan biaya sebesar USD 14,80 Miliar dengan lokal konten nol persen.

"Ini sudah ditengarai untuk mengecilkan nilai investasi dan lokal konten disebut 15 persen," ujar staf ahli Menteri Koordinator Kemaritiman Ronie Higuchi. [yud]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini