5 Fakta pesawat buatan PTDI, diremehkan hingga dipakai banyak negara

Kamis, 17 Agustus 2017 07:00 Reporter : Siti Nur Azzura
5 Fakta pesawat buatan PTDI, diremehkan hingga dipakai banyak negara PT Dirgantara Indonesia. ©2014 merdeka.com/nurul julaikah

Merdeka.com - PT Dirgantara Indonesia merupakan industri pesawat terbang satu-satunya di Indonesia dan di wilayah Asia Tenggara. Sejak didirikan pada 26 April 1976, perusahaan ini telah memproduksi berbagai pesawat terbang, helikopter, senjata, dan menyediakan jasa pemeliharaan untuk mesin - mesin pesawat.

Produk buatan Indonesia ini mulai diakui banyak negara. Tak hanya senapan, pesawat dan helikopter buatan PT Dirgantara Indonesia (DI) juga diminati negara-negara asing.

Alhasil, pembelinya kini bukan cuma Tentara Nasional Indonesia (TNI), lembaga nasional seperti Basarnas atau maskapai lokal, tapi sudah ke beberapa negara, bahkan produsen penerbangan asing.

Terbaru, PT DI secara perdana menerbangkan Pesawat N219 pada Rabu (16/8) pagi. Sebelum diterbangkan, pesawat tersebut sudah melakukan rangkaian pengujian pada 9 Agustus 2017 lalu.

Pesawat N219 itu diterbangkan di landasan pacu Bandara Husein Sastranegara, Jalan Pajajaran nomor 154 Bandung, sekitar pukul 09.13 WIB. Sorak sorai bangga ratusan karyawan dan tamu undangan mewarnai ketika pesawat berwarna putih tersebut untuk kali pertamanya lepas landas.

Flight test atau uji coba penerbangan N219 disaksikan langsung Kepala LAPAN Thomas Djamaludin, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Agus Santoso, Direktur Utama PT DI Budi Santoso serta pejabat teras PT DI.

Selain N219, PT DI sebelumnya telah memproduksi berbagai pesawat terbang, berikut rangkumannya.

1 dari 5 halaman

CN-245

PT Dirgantara Indonesia. ©2014 merdeka.com/nurul julaikah

Setelah pesawat N219, PT DI juga akan meluncurkan pesawat terbaru, CN-245. Pesawat ini ditargetkan mulai terbang pada 2018.

Direktur PT DI, Budi Santoso mengatakan, pengerjaan pesawat saat ini masih dalam tahap desain. "Masih dalam desain, jadi Insya Allah kita mulai karena ini pesawat derivatif (turunan) dari CN-235, jadi bukan pesawat baru 80 persen komponen sama dengan CN 235 dan 295. Jadi, kita targetkan 2018 sudah bisa terbang," kata Budi seperti ditulis Antara, Selasa (24/1).

Budi optimis target pembuatan pesawat tersebut bisa dikejar pada 2018 karena dinilai tidak seberat dalam pembuatan pesawat CN 219. "Kalau 219 itu buat semua baru, kalau 245 kita buat ekornya saja, jadi yang lain sama, sertifikasinya sama melanjutkan yang 235," katanya.

Selain itu, Budi tengah mengurus sertifikasi yang dibantu oleh perusahaan manufaktur pesawat yang bermarkas di Toulouse, Prancis melalui kerja sama. Budi mengatakan hal itu dilakukan untuk mempercepat proses sertifikasi pesawat di bawah tipe ATR 72 tersebut.

Meskipun dalam proses sertifikasi dibantu oleh Airbus, Budi menegaskan ide dan desain murni hasil karya anak negeri.

Dia mengatakan CN-245 merupakan pesawat kecil untuk daerah komersil yang jika dikembangkan bisa berkapasitas bisa 30-50 penumpang seiring dengan perkembangan teknologi yang semula hanya 10-12 penumpang.

2 dari 5 halaman

NC212i

Pesawat buatan PTDI. BUMN©2016

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) menjadi satu-satunya industri pesawat terbang di dunia yang saat ini memproduksi pesawat NC212i. Seluruh proses pembuatan pesawat tersebut telah dilakukan di Bandung pada kawasan produksi PTDI karena Airbus Defence and Space telah menyerahkan sepenuhnya fasilitas produksi ke PTDI mulai dari jig dan tools hingga pergudangannya (Slow Mover Material) yang semula berada di Spanyol telah dikirimkan seluruhnya ke PTDI.

Apabila Airbus Defence and Space mendapatkan pesanan NC212i, pembuatan pesawat tersebut sepenuhnya akan tetap dikerjakan PTDI di Bandung.

"Airbus Defence and Space telah memberikan kepercayaan kepada PTDI karena mereka akan lebih fokus mengembangkan pesawat besar, oleh karenanya Final Assembly Line khusus NC212i telah disiapkan di fasilitas PTDI sejak bulan Oktober tahun 2011 silam," ucap Direktur Utama PT DI Budi Santoso dalam keterangannya yang dikutip merdeka.com di Jakarta, Senin (20/6).

Pesawat NC212i adalah pesawat multiguna generasi terbaru dari NC212 dengan daya angkut 28 penumpang, memiliki ramp door, kabin yang luas di kelasnya, sistem navigasi dan komunikasi yang lebih modern, biaya operasi yang lebih rendah namun tetap kompetitif di pasar pesawat kecil.

Pesawat NC212i dapat juga digunakan sebagai pembuat hujan, patroli maritim dan penjaga pantai. Pesawat generasi sebelumnya C212 berbagai seri telah digunakan lebih dari 600 unit oleh 38 negara di ataranya yaitu Thailand, Filipina, Afrika Selatan, Spanyol, Uni Emirat Arab, Cili dan Meksiko.

3 dari 5 halaman

Wulung

Wulung. Istimewa

Indonesia berhasil membuat pesawat terbang tanpa awak atau yang biasa disebut sebagai drone yang diberi nama Wulung. Pesawat tanpa awak ini merupakan karya anak bangsa yang dikembangkan PT Dirgantara Indonesia (PT DI), BPPT dan Balitbang Kementerian Pertahanan RI dan telah mendapat sertifikat tipe dari Indonesian Military Airworthiness Authority (IMAA).

"Sertifikat tipe PTTA Wulung telah dikeluarkan IMAA, pesawat ini dirancang sebagai sebuah pesawat tanpa awak dengan kemampuan autopilot," kata Direktur Teknologi dan Pengembangan PT DI Andy Alisjahbana saat menerima sertifikat tipe PTTA Wulung di Kompleks PTDI Kota seperti ditulis Antara Bandung, Selasa (28/4).

Dengan dikeluarkannya sertifikat tipe itu, maka proses rancang bangun dan spesifikasi teknis serta batasan operasi pesawat itu telah memenuhi ketentuan dan aturan kelaikan udara berdasar Petunjuk Pelaksana Dirjen Ranahan Nomor Juklak/20/VIII/2010 tertanggal 31 Agustus 2010.

Sistem itu menggunakan konsep modular composite structure, ruang akses yang luas dan perakitan yang cepat dan mudah. Pesawat tanpa awak itu memiliki bobot maksimal 125 kilogram, kapasitas tanki bahan bakar 35 liter, menggunakan single piston engine tipe pusher bertenaga 22HP.

"Dengan sistem autopilot yang terintegrasi di pesawat, PTTA Wulung dapat melakukan misinya secara otomatis," katanya.

Misi utama PTTA Wulung adalah intelijen, pengawasan, pengintaian atau ISR. Pesawat itu dibuat dengan proses pembuatan dan komponen yang sesuai dengan standar industri penerbangan dan sesuai dengan kualifikasi yang berlaku untuk produk pesawat terbang.

4 dari 5 halaman

Helikopter EC725

Helikopter EC 725 PTDI. ©2015 merdeka.com

Helikopter ini kali pertama terbang pada 27 November 2000 dengan fleet experience lebih dari 500.000 jam terbang. Bahkan heli ini telah dikirimkan ke seluruh dunia lebih dari 200 unit.

"Heli ini juga sudah digunakan oleh lebih dari 30 kepala negara di dunia di antaranya Mexico, Brazil, Nepal, Kamerun, Chili, Oman, Singapur, Korea Selatan, Prancis, Spanyol, Jepang, dan Uni Emirat Arab," kata Direktur Produksi PT DI Arie Wibowo di Bandung, Jumat (4/12).

Dia melanjutkan, heli dengan dua mesin turbomeca makila 2A1 ini telah terbukti ketangguhannya dalam pertempuran di Lebanon, Chad, Afganistan, Mali dan Libya. Heli yang dapat mengangkut 12 penumpang ini juga memiliki visibilitas yang baik untuk melihat ke bawah dan samping.

"Ini juga dapat mendarat di landasan yang berbatu bahkan salju, sehingga mungkin untuk digunakan oleh presiden sampai ke pelosok negeri," terangnya.

Soal persenjataan, kata Ari tidak perlu diragukan lagi. Heli ini dapat dipersenjatai dengan lengkap karena tidak memiliki batasan kecepatan saat ditambahkan dengan persenjataan lengkap. Pesawat yang dibanderol 35 juta euro ini juga telah tersertifikasi dengan sea state enam dan memiliki pelampung di bagian bawah untuk kondisi emergency jika harus mendarat di perairan atau laut.

"Pelampung ini dapat berkembang otomatis pada kondisi emergency dengan kecepatan pesawat 150 knot," ungkapnya seraya menyebut bodi heli dilengkapi dengan anti peluru.

Sayangnya, Mantan Kasau Marsekal TNI Agus Supriatna sewaktu itu menyebut, helikopter dalam negeri EC725 cougar buatan PT Dirgantara Indonesia tidak direkomendasikan untuk digunakan standar pengamanan presiden. Dia malah melirik helikopter AgustaWestland AW 101 buatan Italia untuk digunakan Jokowi.

Namun, saat Luhut Binsar Panjaitan, yang waktu itu menjabat sebagai Menko Polhukam, meninjau langsung pesawat militer ini, merasa Presiden Jokowi akan cocok menggunakan heli tersebut. Apalagi setelah Jokowi memastikan tidak akan menggunakan heli VVIP buatan luar.

"Bagus, bagus. Untuk Combat SAR ternyata sudah siap, (jenis Cougar) itu bisa dipakai juga untuk pesawat kepresidenan. Tapi tentu (untuk VVIP) kita lakukan penyesuaian sana sini," tutur Luhut.

5 dari 5 halaman

CN-295

Pesawat C295 TNI AU. ©2012 Merdeka.com

Pesawat CN-295 merupakan produk hasil joint-venture antara PT Dirgantara Indonesia (DI) dengan PT Airbus Military. Dari kerja sama tersebut, PT DI mendapatkan lisensi penuh untuk membuat atau merakit rangka pesawat itu di Indonesia.

CN-295 merupakan jenis pesawat angkut kelas menengah, dan lebih banyak digunakan untuk kepentingan militer. Pesawat ini dilengkapi mesin PW127G turboprop dan pertama kali diperkenalkan kepada publik pada 1998.

Secara umum, pesawat ini yang dihargai USD 28 juta ini mampu membawa 71 pasukan atau benda seberat 9.250 kg. Kapasitas itu mampu dipenuhi CN-295 karena memiliki panjang 24,50 meter dan tinggi 8,60 meter, ditambah lebar sayap sepanjang 25,81 meter.

Secara performa, CN-295 mampu melaju dengan kecepatan maksimum 576 km per jam atau 311 knot, dan menempuh jarak maksimal 1.300 km dengan muatan penuh, atau 3.000 kg tanpa muatan.

[idr]
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini