4 Fakta menarik soal aspal campur limbah plastik karya anak bangsa

Senin, 18 September 2017 06:00 Reporter : Idris Rusadi Putra
4 Fakta menarik soal aspal campur limbah plastik karya anak bangsa Aspal bercampur plastik. Anggun ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Pemerintah Jokowi-JK gencar melakukan kampanye pemanfaatan sampah, salah satunya dilakukan untuk pembangunan jalan. Pembangunan jalan menggunakan plastik dilakukan dengan pencampuran sampah plastik dan aspal dengan porsi sampah 10 persen dan aspal 90 persen.

Bekasi, Jawa Barat, menjadi lokasi kedua (setelah Bali) penerapan teknologi aspal plastik yang digagas Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dalam rangka mengatasi sampah plastik.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan dan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono bahkan meninjau langsung lapangan penerapan teknologi campuran beraspal menggunakan limbah plastik yang diuji coba di Jalan Sultan Agung, Bekasi.

Menko Luhut mengaku bangga dengan hasil karya anak bangsa dalam penelitian pemanfaatan sampah plastik sebagai campuran aspal jalan itu. "Saya apresiasi Kementerian PU-Pera, Bapak Basuki, atas kerja bersama ini," ujarnya.

Penelitian mengenai pemanfaatan limbah plastik untuk bahan campuran aspal sudah dimulai sejak 2008 oleh badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dan diinisiasi dari Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman.

Penelitian tersebut dilanjutkan kembali pada awal 2017. Referensi penelitian serupa sudah dilakukan di India.

Berdasarkan hasil kajian di laboratorium pada 2017, campuran beraspal panas dengan bahan tambah limbah plastik menunjukkan peningkatan nilai stabilitas Marshall 40 persen dan lebih tahan terhadap deformasi dan retak lelah pada kadar limbah plastik tertentu dibandingkan dengan campuran beraspal panas standar.

Tak hanya itu, masih banyak fakta lain seputar aspal bercampur sampah plastik ini. Berikut ulasannya.

1 dari 4 halaman

Jadi solusi persamalahan limbah

Ilustrasi mengaspal. ©2013 Merdeka.com/Shutterstock/Vadim Ratnikov

Pemanfaatan limbah plastik sebagai bahan tambah pada campuran beraspal panas menjadi salah satu solusi bagi permasalahan limbah plastik yang merupakan wujud dari kepedulian terhadap lingkungan.

Program tersebut sejalan dengan komitmen pemerintah yang disampaikan Presiden Joko Widodo pada saat pertemuan G-20 untuk mengurangi sampah plastik laut sebesar 70 persen hingga tahun 2025.

Program itu juga sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 di mana Indonesia akan membangun 2.600 km jalan nasional, 1.000 km jalan tol dan pekerjaan pemeliharaan di semua wilayah dengan kebutuhan aspal sekitar 1,5 juta ton/tahun.

Dengan teknologi campuran aspal plastik, 1 km jalan membutuhkan 2,5 sampai dengan 5 ton limbah plastik, tergantung lebar dan ketebalan jalan.

Teknologi campuran aspal plastik telah diujicoba di jalan lingkungan Universitas Udayana Bali sepanjang kurang lebih 700 meter pada 18-29 Juli 2017.

Setelah uji coba yang sukses di Bali, Bekasi adalah lokasi penerapan untuk jalan nasional yang pertama. Penerapan serupa juga akan digelar di jalan nasional di Jakarta, Surabaya dan Makassar.

2 dari 4 halaman

Ciptakan sentra ekonomi baru

Luhut Panjaitan blusukan ke TPS. ©2015 merdeka.com/faiq hidayat

Menteri Koordinator bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan menyebut, pencampuran sampah dengan aspal pada pembangunan jalan akan memberi keuntungan bagi masyarakat kecil. Sebab, pemerintah akan mengumpulkan sampah dari pengepul sampah plastik untuk diolah menjadi campuran aspal.

"Jadi ini, bagaimana kita membangun sentra-sentra ekonomi kecil untuk suplai kepada Kementerian PU-Pera untuk mencampur 10 persen plastik dari setiap kilometer yang akan dibuat. Kalau itu jadi, kita akan melihat sentra ekonomi baru lagi," ujar Luhut di Bekasi, Jawa barat, Sabtu (16/9).

Ke depannya, Luhut akan melakukan koordinasi dengan Kementerian Koperasi dan UKM untuk mengorganisir bagaimana pembelian sampah dari masyarakat utamanya pengepul sampah plastik.

"Kita akan rapatkan minggu depan, bagaimana skemanya. Akan diorganisir oleh Kemenkop, LHK atau siapa nanti dirumuskan," jelasnya.

Selain memberi manfaat keekonomian, pemanfaatan sampah menjadi jalan aspal juga mengurangi volume sampah di Indonesia. Kebersihan laut juga lebih terjamin dan kualitas ikan yang dikonsumsi masyarakat akan semakin baik.

"Kedua adalah kebersihan. Kebersihan kita, sampah itu yang tidak ada nilainya, sekarang jadi ada nilainya. Laut kita bersih, ekonomi bagus, kita sehat karena ikan yang kita makan itu bersih, itu dampaknya," pungkasnya.

3 dari 4 halaman

Bikin aspal aman dan tambah bagus

Basuki Hadimuljono. ©2014 merdeka.com/arie basuki

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimuljono mengatakan, campuran aspal dan sampah tidak akan mengurangi kualitas jalan yang dibangun. Sesuai hasil penelitian, campuran tersebut akan memperkuat stabilitas jalan yang dibangun.

"Bebannya itu sesuai kelas jalan, jadi sama. Ini tidak mengurangi kualitas jalan malah menambah perekat jalan," ujar Basuki saat ditemui usai meninjau pembangunan jalan aspal bercampur plastik di Bekasi, Jawa barat, Sabtu (16/9).

Basuki mengatakan, saat ini 46.000 kilometer jalan di Indonesia membutuhkan pemeliharaan. Pemeliharaan jalan tersebut nantinya akan menggunakan jalan aspal bercampur plastik. "Kita punya kebutuhan jalan 46.000 kilometer pemeliharaan, ini kan dalam rangka pemeliharaan. Satu kilometer butuh 3 ton kresek. Bayangkan berapa banyak sampah yang akan diserap," jelas Basuki.

Basuki menjelaskan, jalan aspal bercampur plastik aman terhadap racun. Karena sampah plastik baru akan menimbulkan racun apabila suhu campuran keduanya melebihi batasan suhu aspal ditetapkan.

"Ini aman terhadap racun, suhunya kan hanya 150. Dia baru terdegradasi kalau suhunya 280 derajat, itu baru keluarkan racun. Ini masih di bawah, itu sesuai dengan penelitian kami," paparnya.

Basuki menambahkan, jalan campuran aspal dan plastik sudah diaplikasikan di jalan Universitas Udayana, Bali, sepanjang 700 meter pada bulan Juli lalu. "Ini sudah di uji di Universitas Udayana dengan lintasan ringan, di bekasi ini lebih berat. Makanya kita harus coba terus diseluruh wilayah," pungkasnya.

4 dari 4 halaman

Banyak daerah akan gunakan aspal campur sampah plastik

jalan aspal. ©2017 merdeka.com/abdullah sani

Pemerintah telah menerapkan pembangunan jalan dengan komponen bahan aspal dicampur sampah plastik di Bekasi, Jawa Barat. Sebelumnya, jalan dengan komponen yang sama juga telah diaplikasikan di Universitas Udayana, Bali, sepanjang 700 meter.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-Pera) Basuki Hadimuljono berencana akan menerapkan jalan yang sama di Medan, Surabaya dan Makassar. Sementara itu untuk wilayah Jakarta, pemerintah berencana akan menerapkan di jalan tol Tangerang-Merak.

"Nanti akan dilanjutkan di Medan, di Surabaya, di Makassar. Kalau di Jakarta, Tol Tangerang-Merak kita coba. Jadi terus terus kita lakukan sosialisasi untuk terus dibangun," ujar Basuki di Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (16/9).

Basuki mengatakan, pemerintah akan memanfaatkan sampah untuk digunakan dalam pembangunan jalan di seluruh Indonesia. Untuk itu, pihaknya akan menggandeng Kementerian Perindustrian mencari alat pencacah sampah plastik dengan kapasitas memadai.

"Makanya saya mau beli alat pencacah dari SMK untuk mencacah sampah plastik itu, karena kebutuhan kita kan besar. Berapa SMK nya, dimana dan seperti apa, kita akan kerja sama dengan Kementerian Perindustrian," jelas Basuki.

Sementara itu, Kepala Pusat Litbang Jalan dan Jembatan Deded P. Syamsudin mengatakan, pihaknya akan menggerakan industri agar bersedia membantu pemerintah mengumpulkan sampah plastik dari masyarakat. Selain itu, industri juga diajak untuk mampu menciptakan alat pencacah sampah plastik.

"Makanya ini mau kita gerakkan, industrinya harus dibangun. Karena stoknya ada, sampahnya sampai 5,2 juta ton per tahun. Nanti ini akan dikumpulkan. Terutama alat mencacahnya, itu yang akan kita gerakkan," jelas Deded.

Deded menambahkan, kualitas jalan campuran aspal dan sampah plastik milik Kementerian PU-Pera, memiliki kualitas sama dengan jalan dengan komponen yang sama di negara lain. "Miriplah. Pokoknya intinya, plastik itu sifatnya modifier. Modifikasi meningkatkan kinerja aspal," pungkasnya.

[idr]
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini