Pesantren Al-Khoziny Sidoarjo Ambruk Jadi Pemberitaan Media Internasional, Sikap Orangtua Santri Jadi Sorotan

Ambruknya Pesantren Al-Khoziny Sidoarjo mengakibatkan 40 korban tewas, orangtua santri tidak menyalahkan pihak sekolah.

Mardani
Oleh Mardani - Reporter
Pesantren Al-Khoziny Sidoarjo Ambruk Jadi Pemberitaan Media Internasional, Sikap Orangtua Santri Jadi Sorotan
Anggota tim penyelamat Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BASARNAS) berdoa setelah upacara penutupan yang menandai berakhirnya operasi pembersihan puing dan pencarian di lokasi runtuhnya musala Pondok Pesantren Al Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (07/20/2025). (AFP/ Juni Kriswanto)

Peristiwa runtuhnya Pondok Pesantren Al-Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur, tak hanya mengguncang Indonesia, tetapi juga menjadi sorotan media internasional, salah satunya Aljazeera.

Di balik tragedi yang menewaskan puluhan santri itu, terselip kisah pilu, keteguhan iman, dan sikap luar biasa dari para orangtua yang tetap tabah tanpa menyalahkan siapa pun. Peristiwa ini pun mengundang perhatian Aljazeera dalam pemberitaannya.

Muhammad Royhan Firdaus, 16 tahun, baru saja menunaikan salat di lantai satu pesantren pada Senin siang ketika suara keras mengguncang gedung.

“Saya pikir itu gempa bumi,” ujarnya dikutip dari Aljazeera, Selasa (7/10/2025).

“Kami semua mulai berlari,” lanjutnya.

Saat ia menengadah, serpihan langit-langit dan beton berjatuhan menimpanya. Ia sempat tertimpa puing besar dan terjatuh beberapa kali, namun adrenalin membuatnya terus berusaha menyelamatkan diri.

Baru setelah di luar, ia menyadari kakinya patah dan bahunya remuk hingga harus dipasang peniti logam di Rumah Sakit Siti Fajar, Sidoarjo.

Selama beberapa minggu terakhir, bangunan pesantren memang tengah menjalani pekerjaan konstruksi di dua lantai atas. Berat beton baru yang dituang diyakini memicu runtuhnya struktur secara berlapis—dijelaskan pejabat Indonesia sebagai “seperti tumpukan panekuk”

Lebih dari 100 santri berhasil menyelamatkan diri, namun hingga Minggu jumlah korban tewas mencapai 40 orang, sementara sekitar 27 lainnya masih diperkirakan tertimbun reruntuhan. Pencarian dilakukan siang malam dengan bantuan drone termal, namun “tidak ditemukan tanda-tanda kehidupan lebih lanjut.”

Orangtua Santri Anggap Sebagai Kecelakaan

FOTO: Basarnas Resmi Tutup Operasi Pencarian Korban Ambruknya Musala Ponpes Al Khoziny,  67 Meninggal, 104 Selamat
Anggota tim penyelamat Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BASARNAS) berdoa setelah upacara penutupan yang menandai berakhirnya operasi pembersihan puing dan pencarian di lokasi runtuhnya musala Pondok Pesantren Al Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (07/20/2025). AFP/ Juni Kriswanto

Tragedi ini memunculkan pertanyaan besar soal keamanan bangunan dan alasan pekerjaan konstruksi tetap berjalan di tengah aktivitas belajar. Meski begitu, sikap para orangtua santri menjadi perhatian tersendiri. Yuni, ibu dari Royhan, menegaskan bahwa dirinya tak menyalahkan siapa pun.

“Kami menganggap ini sebagai kecelakaan tragis,” ujarnya dengan tenang.

Muhammad pun menyatakan tekad untuk kembali belajar di pesantren setelah dibangun kembali. Pandangan seperti ini banyak dibagikan oleh para wali santri lain—dari belasan orangtua yang diwawancarai Al Jazeera, hampir semuanya mengaku tidak ingin meninggalkan sekolah tersebut.

Syamsul Arifin, dosen sosiologi agama di Universitas Muhammadiyah Malang, menjelaskan bahwa keengganan orangtua menyalahkan pihak pesantren tidak lepas dari peran sosial dan spiritual lembaga seperti Al-Khoziny.

“Meskipun orang tua mungkin terkejut atau sedih, mereka cenderung tidak ingin menyalahkan pemilik atau pimpinan sekolah, karena hubungan antara guru dan murid di pesantren sangat sakral,” ujarnya.

Kiai dan Ustaz Sangat Dihormati

Bentuk Solidaritas: Santri Temanggung Gelar Sholat Gaib untuk Korban Mushola Ambruk di Sidoarjo
Santri Pondok Pesantren Tahfidz Al Musthofa Tebuireng 16 Temanggung menggelar Sholat Gaib untuk korban mushola ambruk di Sidoarjo, wujud solidaritas dan keprihatinan mendalam. AntaraNews

Dalam pandangan masyarakat konservatif Jawa Timur, para kiai dan ustaz memiliki otoritas moral yang tinggi, dianggap sebagai sosok bijaksana dan lebih dekat dengan Tuhan. Karena itu, banyak orangtua lebih memilih menerima musibah ini sebagai takdir ketimbang menyalahkan manusia.

Al-Khoziny sendiri memiliki sejarah panjang. Didirikan pada 1927, pesantren ini menjadi salah satu pusat pendidikan agama tertua di Jawa Timur. Sejumlah tokoh besar Nahdlatul Ulama—organisasi Islam terbesar di dunia—pernah belajar dan mengajar di sana.

Posisi historis ini membuat pesantren memiliki tempat khusus di hati masyarakat.

“Sekolah-sekolah seperti Al-Khoziny menawarkan naungan suci bagi para siswa. Itulah sebabnya para orang tua menaruh kepercayaan penuh kepada para pemimpinnya,” tambah Arifin.

Dugaan Penyebab Bangunan Ambruk

FOTO: Basarnas Resmi Tutup Operasi Pencarian Korban Ambruknya Musala Ponpes Al Khoziny,  67 Meninggal, 104 Selamat
Anggota tim penyelamat Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BASARNAS) berdoa setelah upacara penutupan yang menandai berakhirnya operasi pembersihan puing dan pencarian di lokasi runtuhnya musala Pondok Pesantren Al Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (07/20/2025). AFP/ Juni Kriswanto

Sementara itu, ahli teknik sipil Universitas Muhammadiyah, Mohammad Abduh, menilai penyebab utama runtuhnya bangunan kemungkinan berasal dari kesalahan teknis.

“Kemungkinan besar, pekerjaan konstruksi di lantai atas menyebabkan kelemahan pada struktur, terutama saat menuangkan semen yang menimbulkan getaran dan membutuhkan waktu lama untuk mengering,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa pilar-pilar mungkin tidak cukup kuat menopang beban tambahan.

“Sering kali di Indonesia kita melihat fenomena ‘bangunan hidup’, di mana lantai atau ruangan ditambahkan ke bangunan yang sudah ada tanpa perencanaan awal. Ini sangat berisiko,” ujarnya.

Fakta Evakuasi Berjam-jam: Basarnas Temukan 13 Jenazah Baru di Lokasi Runtuhnya Mushalla Ponpes Al-Khoziny
Tim SAR gabungan kembali menemukan 13 jenazah korban runtuhnya mushalla Pondok Pesantren Al-Khoziny di Sidoarjo, menambah total korban menjadi 141 orang, dengan proses evakuasi berlangsung dramatis hingga dini hari. AntaraNews

Meski banyak pihak menuntut evaluasi menyeluruh terhadap keamanan ribuan pesantren di Indonesia, di sisi lain, peristiwa ini juga memperlihatkan kekuatan nilai spiritual yang mengakar di kalangan santri dan keluarganya. Bagi mereka, tragedi bukan sekadar bencana fisik, melainkan ujian keimanan.

Seperti kata salah satu ayah santri yang kehilangan anaknya, “Saya berharap akan terjadi keajaiban… tapi kalaupun tidak, itu kehendak Tuhan.”

Sikap semacam inilah yang membuat dunia menoleh—antara duka dan keteguhan hati yang luar biasa.

Rekomendasi