Bangsa Eropa dikenal jorok pada Abad Pertengahan. Dari rakyat jelata hingga raja bahkan malas mandi hingga badannya bau busuk.
Tak cuma itu, istana-istana Eropa yang sering kali digambarkan sebagai lambang kemewahan dan kekuasaan pada saat itu juga ternyata menyimpan sebuah rahasia. Istana yang megah hingga perabotan yang indah yang kerap terkesan sempurna di mata dunia itu ternyata begitu jorok kala itu.
Kebersihan yang buruk dan sanitasi yang tidak memadai menjadi rahasia yang terpendam di dalam dinding-dinding istana.
Keterbatasan fasilitas sanitasi, kebiasaan hidup yang tidak higienis, dan penyebaran penyakit merupakan gambaran nyata dari kehidupan di istana pada masa itu.
Berikut ulasannya dilansir dari berbagai sumber, Kamis (13/2/2025).
Advertisement
Istana Bau Busuk karena Pakaian Tak Pernah Dicuci
Pakaian menjadi salah satu aspek yang berkontribusi pada bau busuk di istana. Pakaian luar yang tebal, yang biasanya terbuat dari bahan yang sulit dicuci, jarang dibersihkan.
Sejarawan mengungkap istana Versailes, milik Raja Louis XIV, memiliki bau tak sedap akibat ratusan pakaian yang tak pernah dicuci dan berada di dalam satu ruangan tak berpentilasi.
Rupanya, hal itu tak hanya terjadi di Versailes. Banyak istana-istana megah di Eropa yang juga memiliki bau tak sedap dan menjadi biang kerok penyebaran wabah yang mematikan di Eropa.
Hal ini menyebabkan bau busuk dari pakaian yang tidak bersih menumpuk dan menyebar di dalam istana. Masyarakat pada masa itu menganggap bahwa pakaian yang bersih tidak selalu diperlukan, terutama jika tidak ada acara penting yang mengharuskan mereka untuk tampil baik.
Selain itu, seringkali pakaian hanya dibersihkan ketika terdapat noda yang terlihat, dan bukan karena kebutuhan untuk menjaga kebersihan. Akibatnya, bau tak sedap menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari di istana, menciptakan suasana yang tidak nyaman bagi penghuni dan tamu yang berkunjung.
Advertisement
BAB Sembarangan di Dalam Istana
Selain itu, salah satu masalah utama yang dihadapi istana-istana di Eropa pada Abad Pertengahan adalah kurangnya fasilitas sanitasi yang memadai. Sebagian besar istana tidak dilengkapi dengan kamar mandi atau sistem pembuangan limbah yang efektif.
Hal ini menyebabkan kotoran dan urin ada di lorong-lorong istana, dibuang sembarangan. Banyak anggota istana buang air kecil dan besar sembarangan di tangga, lorong, atau perapian Istana.
Dalam laporan yang diterima pada tahun 1675, di Istana Louvre, Prancis, hampir di setiap tangga besar dan di belakang pintu, hampir ada banyak kotoran manusia yang berakibat pada bau busuk yang menyeruak.
Selain itu, kotoran manusia dan hewan sering dibuang sembarangan, bahkan dari jendela, menyebabkan penumpukan kotoran di sekitar istana. Bau busuk yang ditimbulkan oleh tumpukan kotoran dan sampah organik menjadi masalah umum yang tidak dapat dihindari.
Masalah ini diperparah oleh kenyataan bahwa banyak istana dibangun di lokasi yang tidak memiliki akses mudah ke sumber air bersih. Hal ini membuat penghuni istana kesulitan untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan mereka.
Selain itu, kebiasaan masyarakat pada masa itu yang menganggap mandi sebagai hal yang tidak perlu juga berkontribusi pada kondisi yang semakin buruk.
Advertisement
Jarang Mandi
Mandi adalah praktik yang jarang dilakukan, baik oleh bangsawan maupun rakyat jelata pada saat itu di Eropa. Banyak faktor yang mempengaruhi rendahnya frekuensi mandi ini, termasuk keterbatasan akses air bersih dan suhu dingin yang sering melanda Eropa pada masa itu.
Masyarakat pada umumnya percaya bahwa air dapat membawa penyakit, sehingga mereka lebih memilih untuk tidak mandi. Akibatnya, bau badan yang tidak sedap menjadi hal yang umum dan diterima sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Dalam kondisi seperti ini, banyak bangsawan yang mengandalkan pelayan untuk membantu mengurangi bau badan mereka. Pelayan ini sering kali bertugas untuk mengipasi majikan mereka, mengusir serangga, dan menjaga agar mereka tetap nyaman meskipun dalam keadaan tidak bersih.
Praktik ini menunjukkan betapa pentingnya status sosial dalam menentukan akses terhadap kebersihan dan kenyamanan.
Advertisement
Penyebaran Penyakit
Kurangnya kebersihan dan sanitasi yang buruk di istana-istana Eropa pada Abad Pertengahan juga menyebabkan penyebaran penyakit menular dengan mudah. Wabah penyakit sering terjadi, dan banyak penghuni istana yang terpaksa menghadapi ancaman serius terhadap kesehatan mereka.
Penyakit seperti demam tifoid, kolera, dan bahkan penyakit menular seksual menjadi hal yang umum di kalangan bangsawan dan rakyat jelata. Wabah ini sering kali dipicu oleh kondisi lingkungan yang tidak sehat dan pola hidup yang tidak higienis.
Dalam banyak kasus, kematian akibat penyakit ini menjadi hal yang biasa, dan istana yang megah pun tidak dapat melindungi penghuninya dari ancaman kesehatan yang nyata.
Advertisement
Taman Jadi Tempat BAB
Taman-taman luas yang ada di sekitar istana, yang seharusnya menjadi tempat bersantai dan menikmati keindahan alam, sering kali digunakan sebagai toilet umum. Terutama selama acara-acara besar, banyak orang yang tidak memiliki tempat untuk membuang kotoran mereka, sehingga taman menjadi pilihan yang praktis.
Hal ini semakin menambah aroma tidak sedap yang melingkupi istana. Penggunaan taman sebagai toilet mencerminkan kurangnya perhatian terhadap kebersihan dan sanitasi.
Meskipun taman-taman tersebut dirancang untuk keindahan, kenyataannya mereka menjadi sumber masalah yang semakin memperburuk kondisi di istana.
Meskipun lukisan dan gambaran istana Eropa Abad Pertengahan sering kali menampilkan kemewahan dan keindahan, realitasnya jauh berbeda. Kondisi yang tidak higienis dan bau busuk merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan di istana pada masa itu.
Perlu diingat bahwa standar kebersihan pada masa itu jauh berbeda dengan standar saat ini. Istana yang megah ternyata menyimpan banyak rahasia kelam yang mencerminkan tantangan hidup di masa lalu.