Butuh mental dan fisik yang kuat bagi para prajurit TNI untuk mengemban tugas, menjaga keutuhan Ibu Pertiwi. Tentu, bukan mudah setiap langkah perjuangan yang ditorehkan para patriot demi menjadi seorang prajurit tangguh.
Kesaksian dari putri daerah yang satu ini merupakan bukti nyata dari deretan perjuangan para calon prajurit. Lisbeth Duwith, siswi Secaba Kowad menceritakan salah satu momen menegangkan tatkala dirinya mendapatkan pendidikan militer.
Arena latihan seketika berubah layaknya medan perang, ada bunyi desingan peluru hingga ledakan granat memenuhi telinganya. Berikut ulasannya seperti yang dilansir dari akun Instagram resmi TNI AD.
Advertisement
Minta Doa ke Orangtua
Lisbeth Duwith memiliki kesempatan emas untuk menjadi prajurit TNI. Berasal dari Sorong Selatan, Lisbeth bertekad kuat untuk menjadi punggawa andalan bangsa Indonesia.
Dinyatakan lolos seleksi dan bakal mengikuti pendidikan, kala itu wanita cantik ini langsung memberi kabar dan meminta doa restu kepada keluarga di rumah.
"Saya telepon ke orangtua, saya memberitahukan ke mama dan kakak-kakak, minta doa ikut pendidikan supaya Lisa bisa menjalankan pendidikan dari awal sampai akhirnya berjalan baik, tidak ada kendala apapun, supaya Lisa bisa pulang lihat mama dan adik-adik," ceritanya.
Advertisement
Antara Hidup & Mati
Menjalani pendidikan militer sebagai calon prajurit TNI sempat membuat Lisbeth kaget. Meski baru menjalani latihan, aroma medan perang pun sudah mulai terasa.
Secara terang-terangan, Lisbeth mengaku pasrah antara hidup dan mati lantaran para pimpinan disebutnya menggunakan berbagai amunisi tajam.
"Saya perasaan takut karena lihat pertama. Dari atas itu benar-benar ditembak jadi antara hidup dan mati. Antara hidup dan mati karena mereka memakai amunisi-amunisi tajam," ungkapnya.
Advertisement
Pantang Menyerah
Putri Papua tersebut menceritakan kembali semasa dirinya menjalani latihan merayap. Tubuh yang tak prima membuatnya sempat kesakitan di bagian dada. Kendati demikian, ia tak menyerah dan tetap berjuang menjejakkan kaki hingga garis akhir di posisi belakang.
"Di situ saya pas merayap dada saya sakit, jadi saya agak ketinggalan di belakang. Tetapi dengan berusaha, saya harus bisa merayap. Itu saya pegang senjata E-16," ceritanya.
Advertisement
Dilempar Granat
Melihat dirinya cukup tak berdaya, sang pimpinan lantas menghampiri dan terus memberikan semangat. Berhasil mencapai lokasi tujuan yang dikiranya cukup aman, Lisbeth justru mengaku tetap mendapatkan ketegangan. Ia dilempari granat.
"Lalu pimpinan datang ke saya memberikan semangat, di situ saya berusaha merayap. Pimpinan bantu saya karena dada saya sudah terlalu sakit, saya dibantu sama-sama dengan pimpinan kita merayap, turun begitu kan. Kita turun dengan selamat, turun ketika itu kita dilempari granat lagi," paparnya.
Advertisement
Video Calon TNI Wanita Curhat Semasa Pendidikan
Berikut videonya.
View this post on Instagram